Nasehat untuk Bunda

“Bunda jangan marah ya?”

Bisikannya halus dan penuh penekanan. Singkat namun sangat menyentuh sekaligus membuat saya malu pada diri sendiri. Sebelum saya meminta maaf dan berterimakasih, saya spontan tertawa menertawakan diri saya sendiri. Anak kami, Bentara Falasifa Fauzan yang akrab disapa Tara atau Bentar, usianya pada 24 April 2017 lalu genap 4 tahun. Seperti balita pada umumnya, dia pun terbiasa bersikap menirukan perilaku orang tuanya.

Saya dan ayahnya terbiasa membisikkan “hmm…jangan marah, nanti tenggorokan dan dadanya sakit loh.” Istilah “sakit” merupakan sebuah pilih yang sengaja kami pilih, karena istilah itu sangat akrab dengannya. Rasa “sakit” begitu mudah dicerna untuk anak seusianya. Kami paham bahwa begitu banyak pilihan istilah yang bisa kami gunakan untuk menggambarkan betapa “marah” berlebihan, sering, dan tanpa sebab bukanlah hal yang baik. Dan pilihan itu adalah kata “sakit”, bukan “jangan marah nanti dosa”, “jangan marah nanti tidak disayang Allah” dan lain sebagainya.

Alasan saya memilih kata sakit sudah saya paparkan, namun bukan berarti alasan-alasan lain tidak baik. Ini bukan soal baik dan buruk, namun ketepatan di usianya saat ini, serta didukung dengan kondisi dimana saat itu saya butuh dia berhenti untuk terus marah-marah dan merengek. Suatu saat, bisa saja saya menggunakan istilah-istilah lain untuk menghentikan marahnya yang berlebihan.

Akhirnya, alasan yang saya berikan cepat dipahami dan dia mulai santai. Mata yang melotot, suara yang ditekan dan serak, mulut dan raut muka yang dibuat agak seram karena marah, mulai terlihat rileks. Nah, kebiasaan kami ini kemudian dia ikuti atau dipraktikkan ketika orang tuanya marah. Lalu seperti apa kejadiannya sehingga tiba-tiba dia mengingatkan bundanya agar tidak marah? Tepatnya sore hari yang melelahkan usai perjalanan arus balik lebaran Cirebon-Yogyakarta. Kami sekeluarga bersih-bersih rumah mulai dari menyapu sampai mengepel. Karena sudah dua mingguan rumah kami ditinggal, maka wajar rumah berdebu.

Sementara itu, anak kami, Tara, turut membantu meskipun kemudian lanjut bermain dengan mobil-mobilannya. Saat saya mulai mengepel lantai, dia mulai bolak-balik. Lalu terjadilah percakapan antara orang tua yang kelelahan dan anak yang keasyikan bermain.

Bunda: “Tara, ayo bantu bunda lagi. Kalau sudah selesai nyapunya, mainannya gak di lantai dulu ya, bunda masih ngepel nanti kepleset loh!”

Kali ini bunda setengah berteriak ke Tara yang tadinya bantu nyapu, lalu lanjut mainan mobil2an di lantai yg sedang bunda pel.

Tara: “Bunda, jangan suka marah-marah ya?,” ungkap Tara sambil berbisik halus mendekati telinga bunda.

Bunda: “Hahahaha….iya, makasih sayang, maafin bunda ya.”

Tidak hanya tertawa spontan, saya pun segera meminta maaf dan membisikkan terimakasih kepadanya. Kami bahkan sempat tertawa bersama, kebiasaan Tara adalah ketika orang tuanya atau siapapun di sekitarnya tertawa dan menikmati tawanya, maka biasanya dia akan ikutan tertawa. Semacam tertular. Sementara itu ayah masih sibuk beberes ini itu dan siap-siap solat.

Pembelajaran Penting:

Seperti biasa, di setiap momen selalu ada pembelajaran positif yang penting namun terkadang tersembunyi. Mungkin hanya mereka yang peka yang mampu menangkapnya, dan syukur-syukur mampu mengungkapkannya.

  • Anak Pembelajar yang Baik:¬†Ada yang mengatakan bahwa anak-anak itu pembelajar yang sangat baik, salah satunya karena mereka adalah orang yang bersih dari prasangka. Mereka merdeka sejak dari pikirannnya. Hal ini kami rasakan sebagai orang tua yang masih tergolong muda, kami baru memiliki satu anak dan kami sadar kami harus terus belajar.
  • Hilangkan Ego, Belajarlah dari Anak Kita: Jika anak kita saja dengan mudah belajar dari kita, maka kami pun berusaha menghilangkan ego kami dengan menerima setiap pelajaran darinya. Mungkin pelajaran itu tidak secara jelas terlihat darinya, namun sikapnya sehari-hari semuanya adalah sesuatu yang paling jelas untuk kita pelajari.
  • Biasakan 3 Kata Sakti: Meminta Maaf, Terimakasih dan Minta Tolong. Iya, tiga kata tersebut merupakan tiga kata sakti untuk saling menurunkan ego masing-masing. Tiga kalimat itu, di rumah kami berlaku untuk saya, suami saya, dan juga anak kami. Kami terus belajar membiasakan mengucapkannya pada kondisi yang tepat. Kebiasaan ini mengucapkan 3 kalimat tersebut akan terus berjalan seumur hidup.
  • Dan sejumlah pembelajaran baik lainnya.

Demikian catatan saya yang hanya saya niatkan untuk sekadar berbagi pengalaman. Sebagai orang tua baru, sekali lagi saya masih banyak belajar dan mendengarkan setiap petuah dari siapapun. Menarik sekali jika dari pembaca pun turut berbagi pengalamannya atau membantah cara saya memperlakukan anak saya. Saya akan dengan senang hati memahaminya.

Salam bunda pembelajar,

Alimah

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *