Pauleta Bermimpi Ingin Melihat Laut, Mampukah?

Mereka tidak tahu bahwa keingintahuan dapat memberikan sayap dan membantu kita mencapai sesuatu.

 

***

Kamu Pasti Bisa! adalah kalimat yang selalu saya lontarkan kepada Tara, anak kami. Anak-anak memang masih polos dan jujur. Ketika dia mengatakan bisa, maka dia akan mengatakan bahwa dia bisa. Tapi jika memang dia tidak bisa, dia akan mengatakan bahwa dia tidak bisa. Begitupun yang terjadi pada anak kami. Tidak jarang dia mengatakan bahwa dia tidak bisa, jika sudah seperti itu, saya biasanya mengatakan “Tidak, Tara bukan tidak bisa, tapi belum bisa. Kamu pasti bisa sayang, ingat Pauleta si Ayam Laut? Karena dia ingin bisa melihat laut, dia bekerja keras berjalan sangat jauh dalam waktu berhari-hari, dan dia pun berhasil melihat laut yang dia impikan. Hmm…apalagi Tara, kamu pasti bisa memakai kaos kaki ini sayang!”. Sejak itu, dia sering sekali mengatakan, “Aku pasti bisa kan bunda?”.

Nah, cerita tentang Pauleta ini rasanya sayang sekali jika hanya dibiarkan sekali baca lalu selesai. Saya memang terbiasa membacakan buku cerita dongeng maupun fabel baik dari Indonesia, China, Barat, Eropa, dan beberapa cerita lainnya. Termasuk cerita tentang Pauleta, Si Ayam Laut. Saya yang sudah dewasa saja menyukai ceritanya. Setiap kalimatnya kaya akan makna dan sangat positif, serta sesekali dibumbui sesuatu yang lucu konyol namun masuk akal.

Cerita ini ditulis oleh Stephania Tesson, buku ceritanya ini masuk dalam 10 kumpulan dongeng hewan peternakan. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia. Buku ini penuh dengan ilustrasi gambar berwarna dan menarik. Termasuk cerita tentang Pauleta, ilustrasinya dibuat oleh Thierry Laval.

Nah, bagaimana cerita aslinya? Saya merasa sayang sekali jika cerita ini hanya berhenti pada imajinasi anak kami. Jadi melalui blog ini saya bagi cerita aslinya secara penuh dan dilengkapi gambarnya.

Selamat membaca…

***

Pauleta, Si Ayam Laut

(Cerita oleh Stephania Tesson. Ilustrasi Thierry Laval)

 

Namaku Pauleta dan kau? Aku memiliki satu kekurangan: aku terlalu ingin tahu. Sayangnya, di dalam kandang ayam tidak terlalu banyak hal yang dapat kupelajari. Oh iya, aku belum cerita ya? Aku tinggal di peternakan Clos. Dalam bahasa Perancis, kata peternakan sama dengan kata tertutup, yaitu “ferme”. Menakutkan, ya? Sebenarnya aku ingin semuanya terbuka…

***

 

 

“Hai! Pauleta! Aku, Guliver, yang memanggilmu…”

Guliver tinggal di bawah tanah.

“Mengapa kau tinggal di bawah tanah?”

“Karena ayam suka sekali makan cacing!” jawabnya. “Mereka sering langsung menelanmu. Karena itulah aku tinggal di bawah tanah dan bersembunyi.”

Aku tertawa mendengarnya. “Dengar Guliver, aku tidak punya kebiasaan menelan temanku!”

***

Begitulah. Dia pun akhirnya kembali ke dalam tanah. Saat itu juga aku bertanya-tanya, seperti apakah rasanya cacing tanah…tetapi rasa penasaranku tidak sampai membuatku…

“Selamat tinggal Pauleta. Aku mau ke laut, ke rumah sepupuku, si cacing laut.”

“Apa itu lau Guliver?”

“Laut sama saja seperti tanah, tapi hanya ada air di mana-mana.”

“Apa gunanya laut?”

“Membuat bebek-bebek bicara. Selamat tinggal! Aku akan membawakanmu kerang!”

“Apa kerang itu semacam ayam yang bisa berenang?”

Tidak ada jawaban karena Guliver sudah menghilang….ke bawah tanah…

Ah! Melepas seorang teman pergi memang berat! Lihat, langit pun ikut menangis…

Tik! Tik! Butiran hujan yang berjatuhan membuat genangan seperti Laut. Ayam betina basah kuyup, matanya kuyu dan sayu. Itulah Pauleta yang malang, ayam yang eksepian…

“Hai kau!”

Makhluk apakah ini? Burung putih yang sangat anggun dan langsung mengambil tempat di sampingku, seta terlihat sangat sombong.

“Apakah kau tidak punya setetes air untuk hewan yang kehausan ini?”

Ha, beginilah cara masuk ke rumah orang tanpa menyingung si pemilik rumah!

“Tetes-tetes air ini jatuh dari langit. Kau hanya tinggal membuka paruhmu!”

“Terimakasih untuk keramahanmu, Ayam betina yang cantik! Di tempatku, aku hanya perlu menunduk untk mencari makan dan menghilangkan dahaga.”

“Kau mau ke mana?”

“Ke laut!”

“Bagaimana bentuk laut itu?”

“Kau tidak tahu? Wah, kau ini baru lahir kemarin sore atau bagaimana?”

***

 

Lautan, di sanalah tempat daratan berakhir.

Di sanalah matahari terbenam.

Di sanalah air memeluk cakrawala.

Di sanalah tempat pelikan berburu ikan.

 

“Apa itu cakrawala? Apa itu ikan?”

“Itu terlalu rumit untuk dijelaskan!”

Kau sebaiknya ikut saja denganku!”

“Aku tidak bisa terbang!”

“Jika kau bertanya-tanya terus, kau akan di sini seumur hidupmu dan mematuk makananu!”

Pelikan itu pun terbang.

***

Tik, tik, tik! Langit kembali menangis….

Ayam betina basah kuyup

Mata sayu dan kuyu

Kandang ayam penuh jerami…

Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau menunggu sampai ayam memiliki gigi hanya untuk mengetahui apa itu lautan!

Nah, inilah rencanaku: pertama aku harus memanjat pagar kandang ayam…

Haati-hati dan lihatlah ke belakang! Hup! Kini, kaki-kakiku, berlari-lari, berlarilah, telusurilah jalan menuju lautan!

Pauleta menyusuri daratan secepat angin, secepat waktu berlalu. Satu hari, satu malam, lalu satu hari lagi. Dia lalu bertemu dengan seekor kambing.

“Apakah lewat sana jika mau ke laut?”

“Ya, ya! Aku baru saja dari sana. Laut itu sangat indah!”

***

 

 

Dia lalu bertemu dengan bintang, yang melesat sama cepat dengannya. “Apakah lewat sana jika ingin ke laut?”

“Betul, tapi hati-hati! Jangan sampai jatuh ke dalamnya. Kau punya teman yang jatuh dan tinggal di dalam lautan selamanya.”

Dia juga bertemu dengan seekor musang yang bertanya kepadanya,

“Apakah aku bisa menemanimu?”

“Jika kau mau!”

“Kau mau kemana?”
“Tentu saja ke laut!”

Setelah beberapa jam, musang itu meninggalkannya karena terlalu lelah menemani perjalanan menuju laut…

“Astaga, ayam itu bertenaga super!”

Mereka tidak tahu bahwa keingintahuan dapat memberikan sayap dan membantu kita mencapai sesuatu.

“Namaku Pauleta. Salam kenal! Dia membuka matanya yang bulat. Matanya sangat bulat sampai laut tertawa-tawa membawa ombak.

“Selamat pagi! Mari masuk!”

“Eh…aku aku tidak bisa berenang!”

“Kalau begitu, pakai saja pelampung!”

***

 

Akhirnya, sampailah Pauleta di ujung jalan.

Di sanalah daratan berhenti.

Di sanalah tempat Matahari terbenam.

Di sanalah tempat air memeluk cakrawala.

Di sanalah tempat pelikan berburu ikan.

Lautan!

Dia memasukkan satu kakinya ke air…

oooohh!! Ternyata tidak panas!! Dua kakinya masuk ke air…

Ah, ternyata enak!!!

“Katakan padaku, Nyonya lautan, kau mau kemana?”

“Ah, aku tidak pernah menanyakan hal itu!”

***

Demikian, sampai di sini ceritanya habis, semoga bermanfaat.

Salam,

Alimah Fauzan

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *