Reporter Cilik ala Tara

Nama reporter cilik itu Bentara Falasifa Fauzan (4,5 tahun), kamu bisa memanggilnya “Tara” atau mungkin “Ben” atau “Bentar” seperti panggilan mimi (ini adalah sebutan untuk neneknya di Cirebon). Kalau kami, biasa memanggilnya “Tara”.

Pagi itu dia tengah sibuk menanyakan apa yang dikerjakan oleh ayahnya.

“Ayah sedang ngapain,” tanya Tara kepada ayahnya yang tengah sibuk mengaduk pasir dan semen sebagai bahan bangunan kolam ikan di belakang rumah kami.

“Ayah sedang mengaduk semen dan pasir,” jawab ayahnya.

“Bunda, ayah sedang mengaduk semen dan pasir!” lapor Tara kepada bundanya yang tengah bersiap untuk keperluan sekolahnya.

“Oh, begitu, kenapa mengaduknya pagi-pagi?” tanyanya lagi.

“Iya, supaya cepet selesai, kan bikinnya lama, ayah juga harus segera masuk kantor,” jawab ayahnya.

“Bunda, ayah ternyata bikin kolamnya lama!” lapor Tara lagi ke bundanya.

“Oh, begitu, jadi lama ya bikin kolamnya. Awas nanti ayah terjebak di kolam ikan lele!”

Demikian seterusnya. Yah, kira-kira demikian bagaimana Tara bertanya kepada ayahnya, lalu ayahnya menjawab dan kemudian melaporkannya kepada bundanya. Padahal, bundanya tidak bertanya dan tentu saja sudah mendengarkannya sendiri apa yang mereka obrolkan. Namun laiknya seorang reporter cilik, Tara terus saja melaporkan tentang apa yang dijelaskan ayahnya kepadanya.

Situasi seperti ini bukan sesuatu yang langka di rumah kami. Pastinya, situasi seperti di rumah kami juga dirasakan para penghuni rumah lain di mana ada anak kecil yang sangat aktif. Rumah kami yang hanya terdiri dari 3 orang saja begitu ramai, apalagi jika lebih dari ini.

Di rumah kecil dan sudah pasti sangat sederhana sekali, kami terbiasa bercerita dan berdebat. Intensitas komunikasi di rumah tanpa televisi (tv) membuat kami berinteraksi lebih banyak. Bahkan kondisi di mana masing-masing individu sedang terlibat dengan kesibukannya sendiri, kami masih sempat cerita berantai.

Cerita berantai adalah cerita tentang sesuatu dengan tema yang sama, namun diceritakan oleh tiga orang atau lebih (karena kebetulan hanya ada tiga orang di rumah kami) di ruang yang berbeda namun masih terhubung. Misalnya: Saya (bunda), Tara, dan ayahnya.

Bunda (di dapur sedang memasak): “Pada suatu hari, ada anak kecil bernama…”

Tara (di ruang tengah sedang bermain): “Bentara Falasifa Fauzan…”

Ayah (di ruang belakang sambil mencuci piring): “Anak kecil itu sedang terjebak di laut dengan kapal yang sudah rusak, tiba-tiba…”

Itulah contohnya dimana kami berusaha tetap berinteraksi dan terus bercerita, bahkan dalam kondisi dimana kami sendiri sebagai orang tua sedang sibuk sendiri-sendiri. Tentang cerita ini kami sudah biasakan beberapa tahun lalu ketika Tara sudah mulai senang berbicara dan bercerita. Tapi setelah dia memasuki usia 4 tahun di tahun 2017, dia lebih suka bercerita sendiri atau menerangkan sesuatu dengan sangat detail dan menyeluruh (komprehensif) dari A-Z. Misalnya ketika dia melihat sesuatu, dia terangkan kembali kepada ayah bundanya secara detail kenapa itu terjadi, apa dampaknya dan bagaimana kelanjutannya.

Ahh…tentang kebiasaan ini terkadang saya sebagai ibunya malah terkadang suka ikutan lelah mendengarkan bagaimana dia secara panjang lebar menceritakan sesuatu sampai tuntas. Padahal dia sebagai pelakunya seakan tak pernah lelah. Di semua itu, kami tak mampu melukiskan bagaimana bersyukurnya kami memilikinya. Rasa syukur itu, kami wujudkan dengan terus belajar lebih baik lagi sebagai orang tua muda.

Lalu bagaimana cerita perkembangan anak anda? Pastinya lebih beragam lagi kan? Mari terus berbagi cerita baik dari anak-anak kita.

Salam hangat dari saya,

Alimah

 

Spread the good inspiration
  • 40
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    40
    Shares
  •  
    40
    Shares
  • 40
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *