Kisah ‘Cinta’ Gadis Tionghoa pada Indonesia & “Tong Bao”

Sering dalam mimpi-mimpiku, aku melihat sawah yang hijau. Membentang panjang sepanjang mata memandang. Dan, para petani yang bekerja di dalamnya. Kapan kah aku bisa menyebut mereka “Tong Bao-ku”, saudaraku?

(Audrey Yu Jia Hui)

Kalimat di atas sempat membuat bulu kudukku berdiri dan tiba-tiba nyaris membuatku meneteskan air mata. “Aku ingin membantu rakyat Indonesia!” demikian kelanjutannya. Kalimat di halaman paling depan ini ada di buku “Mencari Sila Kelima” yang ditulis oleh Audrey Yu Jia Hui. Buku yang dicetak tahun 2015, namun berada di tanganku tahun 2016. Itu pun tak sengaja kucari dan kubeli, karena buku itu adalah pemberian salah satu mahasiswiku di hari terahir mata kuliah yang saya ampu.

Tahun 2016, bagi pengamat isu sosial politik di Indonesia pasti paham ada serangkaian peristiwa besar. Singkatnya, peristiwa ini dipicu dari tuduhan kelompok tertentu bahwa Basuki Tjahya Purnama atau Ahok telah merendahkan surat Al-Maidah ayat 51. Dari isu primordialisme hingga berlanjut pada isu rasisme dan seterusnya. Tapi, bukan isu ini yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Mari kita kembali lagi pada sosok Audrey.

Salahs satu mahasiswi yang memberikan buku-nya Audrey bukan terjadi secara tiba-tiba dan tanpa alasan. Sebelumnya, mahasiswi tersebut telah menceritakan bahwa ada satu buku inspiratif yang berhasil membuatnya berpikir bahwa “dia tidak sendiri”. Bahwa ternyata, ada banyak sosok lain selain dirinya yang memiliki kemiripan nasib. Selalu “dianggap berbeda”, itulah yang pernah dia rasakan. Dari wajah, bentuk mata, dan warna kulitnya, siapapun bisa menebak bahwa dia merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia. Meskipun dia berjilbab, namun masih jelas menunjukkan identitasnya. Banyak pengalaman yang kemudian membuatnya gelisah akan identitasnya, serta sejumlah pergolakan pemikian lainnya. Hingga dia mengenal Audrey melalui bukunya, sosok yang pemikirannya dijadikan salah satu referensi untuk menjawab beragam pertanyaannya. Lalu, siapa sebenarnya Audrey dan apa yang dia maksud dengan Tong Bao?

“Gadis Tionghoa-Indonesia” yang Cinta Mati pada Indonesia

Audrey Yu Jia Hui merupakan gadis jenius keturunan Tionghoa-Indonesia yang menyelesaikan pendidikan sarjananya pada usia 16 tahun. Dengan gelar “summa cum laude” di The College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Pada usia 10 tahun, Audrey pernah memecahkan rekor MURI untuk ujian TOEFL dengan skor 573. Audrey juga menjadi anggota Phi Beta Kappa, sebuah organisasi yang mengakomodasi orang-orang dengan prestasi di bidang ilmu pengetahuan. Buku-buku tentang nasionalisme yang ditulisnya antara lain adalah “Patriot (2011)” dan “Mellow Yellow Drama (2014)”. Melalui bukunya, kita bisa mengetahui bagaimana Audrey memiliki rasa cinta teramat dalam. Bahkan bisa saya katakan “Cinta Mati”, karena dengan memendam rasa cintanya kepada Indonesia dan Tong Bao , dia sempat menderita penyakit yang bisa saja membuatnya meninggal dunia.

“Tong Bao” sendiri tidak memiliki terjemahan dalam bahasa Indonesia. Namun, secara harfiah bisa diartikan ‘sesama warga negara’. “Tong” artinya ‘sama’, sementara “bao” artinya berarti ‘rahim’. “Tong Bao” berarti ‘lahir dari rahim yang sama’. Di sini, negara sebagai ibu pertiwi, yang dari rahimnya lahirlah banyak warga negara. Meski memiliki latar belakang berbeda, warga negara tersebut membentuk suatu ikatan persaudaraan sebagai kesatuan. Sayangnya, kecintaaannya kepada Tong Bao yang tertuang dalam pemikirannya justru membuatnya “dianggap aneh”, “dibedakan”, “dianggap tidak waras” hingga disarankan untuk konsultasi pada ahli jiwa. Semua anggapan tersebut bukan hanya muncul dari orang di luar suku Tionghoa, namun juga dari sesama Tionghoa dan bahkan keluarganya sendiri.

Pancasila & Bhinneka Tunggal Ika adalah ‘Kunci’

Reaksi orang-orang sekitar dalam memperlakukannya membuatnya terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Apakah ada yang tidak beres dengannya? Padahal dia hanya ingin menyerahkan seluruh diri–tenaga, otak, dan bahkan segala kekurangannya–untuk kejayaan negara tercintanya, yaitu Indonesia. Hingga akhirnya dia meyakini bahwa tak ada yang salah dengan cara berpikirnya. Hingga dia menemukan orang-orang yang memahami dan mendukung pemikirannya. Orang-orang tersebut merupakan teman-temannya di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Ya, perasaan cintanya justru mendapat dukungan dari negara orang. Termasuk begitu dalamnya cintanya pada Indonesia dengan konsep PANCASILA dan Bhinneka Tunggal Ika yang pernah diajarkan kepadanya di Sekolah Dasar (SD). Dia begitu mengagumi konsep itu, namun sayangnya dia belum bisa melihat praktik dari nilai-nilai tersebut. Dia melihat persoalan yang muncul di permukaan baru gejalanya, seperti banjir, kemacetan, penipuan, korupsi, dan narkoba, dan sejumlah persoalan yang menguap padahal itu adalah gejala. Karena akarnya adalah persoalan Jiwa dan Identitas. Kunci dari penyelesaian masalah itu adalah “Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika”.

Mengubah “Prasangka” Menjadi “Kasih”

Menurut saya, pemikiran Audrey berkontribusi sebagai referensi penting bagi upaya perdamaian melalui sistem pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah bagaimana strategi mengubah “prasangka” menjadi “kasih”. Seperti gagasannya tentang penting adanya “Badan Pengimbauan untuk Pembentukan Hati Bangsa”. Nama badan ini memang cukup panjang, namun untuk meluruskan pandangan keliru tentang pendidikan. Pendidikan bukan sekadar proses bergelut dengan bahan bacaaan, yang harus dihapal, maupun soal-soal ujian yang harus dikerjakan. Pendidikan di sini adalah pendidikan yang menyeluruh, yang mencakup otak, akal budi, dan hati nurani setiap anggota masyarakat. Tentu semua itu dididik dan dibentuk di banku kuliah, tetapi tidak berhenti setelah didapatkannya sebuah ijazah tertinggi, artinya dapat berlangsung seumur hidup.

Badan yang dia maksud juga bukan untuk mendikte apa yang harus diajarkan, ditonton, atau dibaca, melainkan mengimbau rasa cinta pada negara dengan memastikan rakyat tidak terlalu banyak diberi santapan beracun. Contohnya seperti takhayul, prasangka, dan kebencian yang membelenggu dan memecahbelah bangsa. Anggaota badan ini sebaiknya beragam, bukan hanya dari pemerintah pusat, melainkan juga dari masing-masing daerah. Terdiri dari para ahli pendidikan, selain itu juga orang biasa yang peduli pada pengembangan kenegaraan rakyat. Badan ini sebaiknya terbentuk dari anggota tetap (seperti para pakar, ahli pendidikan, guru dan dosen, pemerhati pendidikan, dan sebagainya), dan juga anggota sukarela yang bisa membaur di masyarakat daerah masing-masing. Anggota sukarela ini tidak perlu dari kalangan pendidik. Siapa saja boleh menjadi anggota asal pendidikannya cukup, reputasinya dalam masyarakat baik, dan memiliki kepedulian yang tinggi serta tulus dalam masalah ini.

Saat muncul semisal ada murid menghina murid yang berbeda latar belakangnya (sosial, agama, dan suku bangsa), bisa dilaporkan pada badan ini. Badan kemudian akan mengirim sukarelawan yang mudah diterima latar belakarngnya (misal, terpandang di desa atau RT/RW tersebut, larar belakarng agamanya sama dengan yang bersangutan, dan sebagainya) untuk bermusyawarah dengan murid terkait, sehingga racun prasangka mampu dilumpuhkan.

***

Sekian saya cukupkan sampai di sini ya ceritanya, meskipun begitu banyak hal penting yang bisa kita pelajari dari kisah dan gagasan Audrey yang sangat inspiratif. Oh ya, tulisan ini juga sudah dipublikasikan di TheGeoTimes

Salam hangat dari saya,

Alimah Fauzan

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *