THOUGHT

Lempar Isu Desa, Lalu Bersiaplah Dibully!

Pemuda Desa: Bertani, Mengabdi, Menikah Dini?

Demikian judul opini yang pernah saya tulis pada 30 Oktober 2017, di laman GeoTimes. Tulisan tersebut merupakan tulisan ketiga saya di GeoTimes, sebagai penulis pemula di laman yang cukup populer itu, tentu saja saya cukup rileks menulis apapun. Merasa rileks karena paling yang membaca hanya berapa puluh dan jarang ada yang merespon. Namun siapa sangka ternyata tulisan tentang pemuda desa serta kritik saya dalam tulisan tersebut ada juga yang menanggapi. Tujuan saya menulis opini di luar media komunitas seperti biasanya, memang salah satunya cari teman di ruang lain yang lebih beragam. Termasuk saat saya melempar isu pemuda desa untuk didiskusikan, saya harap lebih banyak lagi teman pemuda yang membacanya.

Usai menulis dan posting, maka siap-siap mendapat respon dari pembaca. Sayangnya memang respon bukan melalui websitenya, namun di facebook (fb)-nya. Nah seperti tulisan-tulisan lainnya, respon terhadap tulisan saya melalui kolom komentar fb pun beragam. Yang menarik bagi saya bukan hanya komen yang sepakat dan mengapresiasi opini saya, namun yang tidak setuju terhadap gagasan saya. Nah, saya bersyukur karena sampai detik ini belum ada komentator yang sampai pada tahap “BULLY”. Saya tulis lagi, (((BELUM))) ada yang sampai (((MEMBULLY))). Saya senang karena komentator memang sosok yang cukup menghargai pendapat orang lain, namun ada sih beberapa yang kurang tepat kritiknya. Contohnya beberapa komentator berikut ini terkait opini saya tentang pemuda desa:

  • Mempersoalkan tentang kondisi pemuda yang digambarkan di tulisan saya berbeda dengan kondisi di desanya.
  • Mengatakan bahwa opini saya terlalu subjektif.
  • Membandingkan antara pemuda desa dan pemuda di kota.
  • Menyebut opini saya tidak sesuai dengan data BPS.
  • dll

Seribu satu penulis di dunia ini juga pernah dan mungkin sering merasakan bagaimana tulisannya kurang begitu dipahami. Jangankan penulis opini singkat seperti saya, terkadang seorang jurnalis menulis hasil penelitiannya yang ditulis secara detail, pun masih mendapat respon dari orang-orang yang gak paham konteks. Misalnya seperti tulisan saya, sudah jelas konteksnya sedang membicarakan pemuda desa, kok malah membandingkannya dengan pemuda kota. Ya jelas berbeda dong. Lalu, ada juga yang mengkritik saya tidak objektif, benar saya memang tidak objektif. Dan apakah sebuah tulisan itu harus objektif? Tentu saja tidak, karena ketika seseorang mengatakan dirinya objektif, pun pada dasarnya dia tanpa sadar sedang berpikir subjektif. Makanya di dalam tulisan saya secara jelas mengatakan “beragam” kondisi pemuda di desa. Bukan di semua desa itu sama kondisinya, namun beragam.

Selain itu, saya juga tidak sedang menulis hasil penelitian kuantitatif. Saya hanya mengungkapkan opini saya berdasarkan fakta kondisi para pemuda di desa-desa yang pernah saya kunjungi. Kunjungan saya juga tidak sekadar berkunjung sekilas lalu pergi, namun terlibat dalam proses pembelajaran di desa. Lalu, ada juga yang membandingkannya dengan data BPS. Duh, sebelum menyebutkan data BPS, mungkin sebaiknya kita kembali memahami data BPS itu sendiri. Berapa tahun sekali data BPS dimutaakhirkan? bagaimana indikator utamanya? bagaimana proses validasinya di desa? apakah data itu mewakili kondisi desa yang sebenarnya, khususnya kondisi terkini? apalagi data BPS hanya berbasis RT dan sampel saja. Jadi, masih yakin bahwa data BPS sesuai dengan kondisi desa yang sebenarnya? Jika sudah sesuai, kenapa selalu saja ada masalah dengan data kemiskinan yang dihasilkan BPS? Jika masih ragu, silahkan baca-baca sejumlah persoalan terkait validasi BPS.

Tapi, postingan di blog pribadi saya ini bukan semata untuk membela diri. Tidak. Karena jika sekadar membela diri, maka saat itu juga saya menulis postingan ini. Jadi maksud tulisan ini apa? ya sekadar untuk mengungkapkan bahwa terkadang kita itu kurang memberi apresiasi pada mereka yang telah membagi pengalamand dan gagasannya. Fakta bahwa tulisan tersebut ada yang kurang tepat, tidak masalah, namanya juga cuma opini singkat. Opini tidak mungkin memuaskan semua pihak. Opini tidak mungkin mengcover seluruh gagasan secara menyeluruh. Opini belum tentu mewakili seluruh pihak.

Hmm…kira-kira begitu, karena siapapun berhak berkomentar. Maka, saya berkomentar mengomentari mereka yang memiliki hak untuk berkomentar. Sehingga, komentar-komentar tersebut terjadi saling mengomentari dan seterusnya bla…bla…bla…

Tapi intinya begini sih, pengalaman personal itu selalu lebih spesifik. Kebenarannya pun tidak bisa dibantah dan tidak bisa digeneralisasikan. Kenapa? Karena pengalaman bukan barang yang bisa dipertukarkan. Pengalaman yang subtil memang tidak mudah dijabarkan, apalagi diposisikan untuk semua situasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu waktu ke waktu yang lain. Intinya, opini saya adalah berdasarkan pembelajaran dan pengalaman nyata saya di beberapa daerah. Artinya jelas, akan berbeda dengan kondisi desa-desa lain yang belum pernah saya kunjungi, apalagi jika dibandingkan dengan kota. Tentu saja berbeda jauh, karena kondisi kota yang sudah baik dari segi akses pendidikan, kesehatan, dan akses-akses lain yang memudahkan seseorang untuk berkarya.

Jadi, apakah berarti saya kapok nulis? oh tentu tidak, saya akan menulis lagi, jika saya tidak menulis berarti memang saya tidak ada ide, saya sedang malas menulis, dan saya bisa jadi tidak ada waktu alias tidak sempat karena sedang kerja di lapangan. Tau sendiri kan orang lapangan seperti apa, masih ada ada listrik yang mengalir ke desa saja sudah untung, apalagi jaringan internet. Ketika saya bisa produktif menulis artinya saat itu saya sedang selow, sedang tidak males, sedang tidak repot, dan tentu saja sedang ada ide. Postingan ini pun bermakna ganda, pertama karena saya memang ingin menanggapi respon dari komentator tulisan saya, kedua bisa jadi sekadar nulis saja yang penting blog saya ini ada isinya. 🙂

Tapi, intinya saya hanya ingin mengungkapkan bahwa pengalaman satu orang dan lainnya tidak bisa dipertukarkan. Jadi, cara menyikapinya mari tetap kalem, dan jika sempat, tulis juga gagasanmu berdasarkan pengalamanmu di media agar orang lain mengetahuinya. Tidak sekadar mengkritik, membanding-bandingkan pada konteks yang kurang tepat. Terimakasih.

Salam keberagaman,

Alimah Fauzan

Paragraf lainnya

Tagged , , , , , , , , ,

About alimah

Seorang ibu, pembelajar, bekerja dan berkarya di Infest Yogyakarta. Inisiator Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bersama Infest Yogyakarta dan media pembelajaran perempuanberkisah.com. Sangat tertarik pada isu perempuan, gender studies, sosiologi komunikasi, pemberdayaan desa, parenting, filsafat, psikologi, tasawuf, dan isu sosial-politik. Tahun 2007, pernah berbagi kisah inspiratif di blog My Last Paragraph. Sejak 2015 sampai saat ini, masih berbagi pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal di perempuanberkisah.com. Tahun ini baru memulai berbagi pengalaman parenting dan cerita inspiratif lainnya di alimahfauzan.id. Saya bisa dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com.
View all posts by alimah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *