BENTARA

Kids Jaman “Now” Tanpa TV

Mendidik anak itu sudah berat, apalagi kalau harus bersaing dengan televisi (tv). Tanpa tv, maka tugas kami lebih ringan.

 

“hey, this is my mommy!”

Kerudungku tiba-tiba ditarik-tarik oleh Tara, demikian sapaan akrab anak kami yang memiliki nama lengkap Bentara Falasifa Fauzan. Pada satu malam minggu, saya dan Tara kencan tanpa ayahnya yang beberapa pekan sedang di luar kota. Malam itu kami memilih menu mie godog Jawa. Sambil makan, Tara tak pernah bisa diam bermain dengan mobil-mobilannya. Selain kami, tiba-tiba ada satu keluarga lengkap dengan anaknya, kedua orang tuanya, neneknya, dan satu lagi om dan tantenya. Saat kali pertama tiba, mereka tak ragu memilih duduk di samping kanan kami. Sejak itu pula, anak lelaki yang sepertinya berusia satu tahun lebih tua dari Tara, tiba-tiba mengajak kenalan Tara dan bermain mobil-mobilan. Sejak itu pula aku tahu bahwa sang anak berbicara dalam bahasa Inggris. Tidak lama kemudian, sang nenek pun menimpali obrolan sang cucu dengan Tara menggunakan bahasa Inggris juga.

Saya yang awalnya serius makan mie godog, sempat kaget ketika Tara menarik kedurung dan memperkenalkan saya sebagai ibunya dalam bahasa Inggris. Saat itu Tara masih berusia 3 tahunan, tapi dia dengan pede, tenang, dan aktif menimpali obrolan teman barunya yang bule itu dengan bahasa Inggris sebisanya. Selama makan malam itu, Tara dan teman barunya serius bermain mobil-mobilan dan mengobrol menggunakan bahasa Inggris. Saya perhatikan sepanjang interaksi mereka, Tara begitu tenang dan menjawab dengan percaya diri. Cara dia menimpali begitu ekspresif, seakan dia paham apa yang diungkapkan teman bulenya itu.

TIdak lama kemudian, kami yang sudah lebih dahulu menghabiskan makanan, akhirnya pamit. Sebelum pamit, sang nenek yang awalnya berbahasa Inggris tiba-tiba mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan bahasa Indonesia. Katanya, “anaknya pintar sekali, ganteng lagi!” demikian ungkapnya sebelum kami pergi. Obrolan kami pun berlanjut diikuti oleh ayah dan bunda sang anak. Hingga akhirnya kami pun pamit pulang.

Sepanjang perjalanan pulang malam itu, saya sempat merenung, bagaimana bisa Tara begitu pede dan tenang mengobrol dengan anak bule? Saya paham kenapa dia sedikit demi sedikit berbicara dalam bahasa Inggris di rumah, atau terkadang mencampurnya dengan bahasa Indonesia. Namun akhir-akhir ini memang dia secara lengkap berbicara dengan menggunakan kalimat lengkap berbahasa Inggris. Misalnya, “Ayah, bunda is coming!” itu adalah kalimat singkat yang pernah dia ungkapkan, namun secara gramatikal itu benar. Benar bahwa saat itu memang saya sedang berjalan mendekatinya. Nah, soal grammer yang tepat itu juga saya tidak pernah mengajarinya.

Menonton Apa yang Kami Suguhkan

Saya dan ayah Tara tidak pernah secara khusus mengajarinya bagaimana harus berbicara bahasa Inggris yang benar. NAmun, kami akan dengan senang hati menjadi teman mengobrolnya dengan berbahasa Inggris. Ketika dia bertanya sesuatu bahasa Inggrissuatu benda, kami pun akan menjawabnya. Jika dia keliru, kami berusaha membenarkanya. Sekadar itu saja, sebagai teman berbincang yang sesekali mengingatkan jika dia keliru. Artinya, ada guru lain selain kami yang mengajarinya berbahasa Inggris. Guru yang saya maksud bukanlah sesosok manusia, tapi media. Dan, media yang dia tonton bukanlah media tv, tapi media video edutainment atau media pembelajaran yang dikemas semenarik mungkin untuk belajar anak-anak. Lalu dimana video-video tersebut bisa kita dapatkan? Dimana lagi jika bukan di youtube? Selain di youtube, kami biasanya membeli satu set DVD edutainment aseli berisi 3 DVD. Seperti saat dia masih kecil, kami pernah membeli satu set DVD tentang cara melancarkan dia berbicara dan mengenal benda-benda, serta bagaimana dia membalas sesuatu dengan mengucapkan terimakasih, minta maaf, dan minta tolong. Kini kami lebih banyak mencari di youtube, satu-satunya media yang bisa saya akses sebagai orang tua.

Kami mengusahakan agar secara rutin download video edutainment di youtube, lalu kami simpan di laptop agar anak kami bisa menontonnya. Program edutainmen pun dari beragam bahasa, baik bahasa Indonesia, Inggris, Korea, Perancis, dan termasuk bahasa Arab. BAhasa Arab sampai saat ini masih sebatas lagu-lagu yang memiliki lirik yang memiliki makna universal. Namun, jadwal menonton Tara pun hanya di akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu. Sebelum menonton, kami juga biasanya melakukan negosiasi dengan anak kami terlebih dahulu. Termasuk mengajaknya memahami tentang lamanya waktu menonton akan membuat matanya sakit. Ketika kami membincang soal penyakit, dia akan dengan mudah memahami dan janji pada dirinya sendiri dan kami tidak mau sakit. Karena tidak mau sakit, maka dia tidak menonton terlalu lama. Dia biasanya yang berjanji dan membatasi dirinya untuk tidak lama menonton.

Fokus Mempelajari Sesuatu

Kami mengamati perkembangannnya, tanpa tv dia tumbuh dengan sangat asyik dan focus pada sesuatu yang tengah dia kerjakan. Misalnya, ketika dia tengah menggambar, bermain dengan ikan-ikannya di kolam ikan belakang rumah, mempelajari huruf-huruf, angka, dan sejumlah gambar di poster dinding maupun di buku-buku yang kami berikan. Dia sangat focus. Kami juga memiliki banyak waktu untuk focus berinteraksi dengannya. Dia juga cukup bertanggungjawab. Termasuk kapan waktu solat berjamaah di masjid, kapan waktu makan, tidur, dan waktu dia mempersiapkan dirinya untuk segera ke sekolah. Hal penting yang juga kami lakukan secara focus adalah bagaimana terus menerus mengajaknya berbicara, bercerita tentang apa yang dia pikirkan, bagaimana pengalamannya atas sesuatu, dan sejumlah hal yang kemudian dia ceritakan kembali kepada kami. Sejak kecil dia telah menikmati dongeng dan cerita-cerita fabel, dia juga akrab dengan buku-buku. Kini setelah dia sekolah TK nol kecil, dia mulai akrab dengan menggambar banyak hal, termasuk menggambar huruf. Dan, dia menikmatinya.

Menikmati Diri Sebagai Sosok Disiplin

Ini yang benar-benar kami rasakan. Dengan sendirinya, rutinitas yang dia lakukan bersama kami, telah membuatnya menjadi sosok disiplin dengan sendirinya. BAhkan ketika kami sebagai orang tua yang tiba-tiba tidak disiplin, maka dia akan mengingatkan kami.

Saat ini, bulan November 2017, Tara memasuki usia 4,5 tahun. Banyak tantangan baru saat bercengkrama dengannya, namun tanpa tv, kami yakin segalanya dapat dibicarakan dengan baik. Iya, kenapa tanpa tv? Kami adalah sebuah keluarga kecil di sebuah kota bergelar kota pendidikan, Yogyakarta. DI kota ini, bukan hanya fasilitas publiknya yang baik, namun masyrakatnya juga memang baik. Yah, lingkungannya sangat mendukung untuk membesarkan anak yang tak sekadar membesarkan mereka. NIlai positif lain dari sebuah kota kecil ini juga masih banyak lagi. Sejak kami memutuskan untuk tinggal secara mandiri di sebuah rumah sewa bersama anak kami, kami telah berkomitmen untuk hidup tanpa tv. Komitmen kami tentu sangat didukung dengan kondisi saat ini dimana akses informasi tidak hanya kita dapatkan dari tv. Alasan lainnya adalah tv di Indonesia belum benar-benar mendidik. Hanya sekadar hiburan dan sejumlah alat propaganda politik. Dan masih banyak hal kecil lainnya.

Memanusiakan Dia Sebagai Manusia

Pada dasarnya begitu banyak hal yang menjadi alasan kenapa kami berkomitmen untuk hidup tanpa tv. Namun tidak bisa saya tuliskan secara detail di sini. Tapi dari keseluruhan alas an-alasan tersebut, yang paling penting adalah kami memperlakukan dia sebagai manusia. Manusia yang peduli ketika orang tuanya memanggilnya. Manusia yang mau berkomunikasi dengan kepedulian pada orang yang dia ajak bicara. Manusia yang peka pada lingkungan sekitar. Dan sekian kebaikan lainnya.

Kami sadar, tv bukanlah sekadar perangkat. Lebih dari itu dia mampu memengaruhi pikiran manusia dengan sangat cepat. Selain tv, tentu saja ada yang bisa jadi pengaruhnya melebihi tv. Games misalnya, dan sejumlah perangkat lain yang tidak sekadar perangkat, namun menyebarkan nilai-nilai tertentu. Jadi, tv dalam tulisan saya kali ini hanya salah satu, selain tv ada lebih banyak lagi. Namun satu hal yang terpenting adalah kita sebagai orang tua ada di kala mereka berproses mempelajari banyak hal. TIdak membiarkan dia memaknai segala hal sendirian.

Di awal tulisan ini saya sudah mengatakan bahwa mendidik anak itu sudah berat, apalagi harus bersaing dengan televisi (tv). Tanpa tv, maka tugas kami lebih ringan. Orang lain mungkin mampu memantau anaknya menonton tv. Tapi kalau bagi kami, kai tidak sanggup. Bagi keluarga yang sudah ada tv di rumah dan terbiasa menikamati tayangan tv, memang hal ini bukanlah sesuatu yang mudah. Namun, segala sesuatu pilihan memang memiliki dampak positif dan negatif. Termasuk kami yang paham apa dampaknya, namun kami selalu mencari cara mengurangi dampak negatif tersebut. Selalu ada alternatif cara untuk menghibur dan mendidik anak, dan kami untuk saat ini telah terbiasa tanpa tv. Untuk mengetahui dampak negatif dan positif menonton tv, games, dan lain sebagainya, saya kira saat ini kita mudah mencari infonya melalui media lain seperti buku, media online, dan pengalaman-pengalaman para orang tua lainnya.

***

Satu hal penting yang harus saya ungkapkan dalam tulisan-tulisan saya, apa yang saya tulis tidak terlepas dari sekian tantangan dalam proses sehari-harinya. Selain itu, anak kami masih memiliki banyak kekurangan, hingga terkadang kami pun kewalahan. Karena kami begitu pun kami sebagai orang tua muda yang masih belajar. Sementara itu dulu, apa yang saya tulis hanay berdasarkan pengalaman saya bersama suami dan tentu anak kami. Tulisan ini juga belum menyeluruh, namun kami senang berbagi dengan segala keterbatasan kami. Kami senang jika melalui media blog ini kita juga bisa saling berbagi pengalaman dan pembelajaran kita sebagai orang tua. Tulisan ini juga menjadi do’a bagi kami, semoga ke depannya anak kai seperti yang dia cita-citakan.

Salam hangat,

Alimah Fauzan

Paragraf lainnya

Tagged , , , , , ,

About alimah

Seorang ibu, pembelajar, bekerja dan berkarya di Infest Yogyakarta. Inisiator Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bersama Infest Yogyakarta dan media pembelajaran perempuanberkisah.com. Sangat tertarik pada isu perempuan, gender studies, sosiologi komunikasi, pemberdayaan desa, parenting, filsafat, psikologi, tasawuf, dan isu sosial-politik. Tahun 2007, pernah berbagi kisah inspiratif di blog My Last Paragraph. Sejak 2015 sampai saat ini, masih berbagi pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal di perempuanberkisah.com. Tahun ini baru memulai berbagi pengalaman parenting dan cerita inspiratif lainnya di alimahfauzan.id. Saya bisa dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com.
View all posts by alimah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *