FEELS

Saat Meninggalkan Anak, Mengapa Tetap Tenang? (1)

“Bunda, Tara tidak mau makan apel. Jadi kami buatkan jus apel dan dibuatkan puding.”

Demikian kalimat salah satu guru Tara dari Yogyakarta. Kalimat itu terus terngiang di pikiran saya sebagai seorang ibu. Seorang ibu yang saat itu harus meninggalkan anak kami. Ya, saat itu sekitar satu pekan lebih saya harus meninggalkan anak saya ke Tentena, Poso. Lembaga tempat saya bekerja sebenarnya tela memberi kesempatan untuk mengajak Tara. Namun, saat itu usia Tara masih satu tahunan. Sendirian ke Poso dengan 2 kali naik pesawat dan sejumlah kerepotan lainnya. Belum lagi membayangkan kesehatan Tara, serta istirahatnya dan lain sebagainya. Sehingga pilihan terbaik saat itu adalah dia menginap di sekolahnya, sekolah yang juga menyediakan asrama khusus para bunda yang mengasuhnya. Di saat yang bersamaan, ayahnya juga sedang ada tugas ke luar kota selama beberapa bulan. Sehingga dengan kondisi kami yang tanpa mertua ataupun saudara terdekat lainnya, maka Tara, anak kami harus tinggal di sekolahnya.

Secara kebetulan, sekolah Tara memang menerima murid yang menginap. Biasanya mereka yang menginap karena orang tuanya tugas ke luar kota ataupun pergi umroh. Sekolah tersebut bernama Lembaga Pendidikan Arif Rahman Hakim (ARH). Alamatnya di Jl. Kantil No.21, Timbulrejo, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Sejak usia satu tahun, Tara sudah mulai masuk play group sekaligus program full day dari pukul 08.00-16.00 WIB. Tahun 2017 ini, Tara sudah mulai masuk program Raudhatul Athfal atau yang sering disingkat RA 2. Istilah ini diambil dari istilah bahasa Arab. Raudhah artinya taman, sedangkan Athfal artinya kanak-kanak. RA berada dibawah naungan Departemen Agama melalui SK Menag.

Keputusan saya dan suami menyekolahkan Tara di ARH karena dekat dengan tempat tinggal kami, juga dekat dengan kantor ayahnya. Di luar alasan tersebut, lokasi sekolah tersebut tepat di depan masjid, pemilik sekolahnya juga memiliki rumah tepat di belakang sekolah dan memiliki dua anak lelaki yang salah satunya seusia Tara. Bunda Fitri, begitu saya menyapanya. Bunda Fitri adalah pendiri sekolah ini bersama suaminya. Sejak pertama kali mengobrol dengan beliau, saat itu pula saya merasa yakin bahwa beliau memang tak sekadar memiliki pengetahuan, namun juga niat baik, tulus, sekaligus tegas dalam mendidik anak. Jiwa kepemimpinan sudah bisa saya tangkap dari cara dia berbicara, sorot matanya, serta sejumlah sikapnya pada anak-anak dan juga guru-guru lainnya.

Guru-Guru Penyayang

Lalu kenapa saya sampai tega meninggalkan Tara sampai satu minggu lebih di ARH? Bahkan tidak hanya satu dua kali, tapi beberapa kali di tahun 2015. Sejak 2016-2017, Tara lebih banyak bersama ayahnya ketika saya ke luar kota beberapa hari. Kembali lagi pada alasan kenapa saya merasa tenang meninggalkan Tara ? Karena Tara bersama seorang yang tepat. Bunda-bundanya di sekolah bukanlah orang-orang tanpa pengetahuan. Mereka memiliki pengetahuan bagaimana cara memperlakukan anak balita, mereka juga mendidik dengan penuh kasih sayang. Sudah seperti keluarga sendiri, begitulah tahap rasa nyaman yang saya rasakan.

Kini Tara sudah memasuki RA 2, nama lain untuk TK nol kecil. Di sini dia memiliki wali kelas baru. Kalau sebelumnya wali kelasnya adalah bunda Fitri, sekarang wali kelasnya bernama bunda Purwanti. Kami memiliki grup whatsapp (WA) untuk wali murid. Dalam sehari, bunda Pur sangat rajin memberikan informasi terbaru kegiatan anak-anak di sekolah. Beliau mengirimkan gambar-gambarnya dan sesekali memberi keterangan, serta menjawab pertanyaan para orang tua yang resah maupun penasaran.

Keterbukaan ARH dan guru-gurunya membuat saya semakin yakin. Termasuk ketika saya ditanya dan ditawarkan “apakah Tara mau tetap meneruskan TK di ARH atau mau pindah?”. Saya dengan yakin menjawab “Tidak”, kami tahu begitu banyak sekolah berkualitas dengan beragam program inovatifnya. Namun saya masih yakin dan merasa nyaman di ARH.

(bersambung)

 

Paragraf lainnya

Tagged , , , , , , ,

About alimah

Seorang ibu, pembelajar, bekerja dan berkarya di Infest Yogyakarta. Inisiator Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bersama Infest Yogyakarta dan media pembelajaran perempuanberkisah.com. Sangat tertarik pada isu perempuan, gender studies, sosiologi komunikasi, pemberdayaan desa, parenting, filsafat, psikologi, tasawuf, dan isu sosial-politik. Tahun 2007, pernah berbagi kisah inspiratif di blog My Last Paragraph. Sejak 2015 sampai saat ini, masih berbagi pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal di perempuanberkisah.com. Tahun ini baru memulai berbagi pengalaman parenting dan cerita inspiratif lainnya di alimahfauzan.id. Saya bisa dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com.
View all posts by alimah →

2 thoughts on “Saat Meninggalkan Anak, Mengapa Tetap Tenang? (1)

    1. Ebok Riska, senang sekali telah berkunjung ke rumah kami. Terimakasih atas kunjungangannya. Bunda, walaubagaimanapun bunda terbaik adalah bunda yang selalu disamping anaknya. Jika ada kesempatan itu, saya memilih seperti bunda Riska, salam kenal dari Tara dan sehat selalu buat adek Mirza.

      Salam hangat,
      Bunda Tara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *