Jangan Berdebat di Depan si Kecil ? Itu Tidak Mudah!

“Apapun yang terjadi, jangan sampai anak menjadi korban” (orang tua)

Saat saya dan suami memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta, saat itu juga kami telah berkomitmen mengatasi segala hal tanpa bantuan orang tua. Kami adalah pasangan yang baru dikaruniai anak pertama setelah 5 tahun menikah. Meskipun sudah menikah, kami terbiasa berjauhan. Saya lebih sering di Jawa, sementara suami lebih sering di luar Jawa.

Menjelang keberangkatan kami ke Yogyakarta, salah satu bude (kakak ibuku) sempat memberi kami nasehat dalam bahasa Cirebon. Kalau diterjemahkan kira-kira begini “Apapun yang terjadi, jangan sampai anak menjadi korban”. Kalimat itu sampai sekarang masih terngiang di pikiranku. Beliau kini sudah almarhumah (lahul fatihah untuk beliau). Maka, ketika saya dan suami ada masalah, kalimat itulah yang terngiang di pikiranku.

Berjauhan merupakan hal biasa bagi kami. Bahkan sejak belum menikah, hamil, hingga menjelang melahirkan si kecil, kami sudah terbiasa berjauhan. Lalu apa yang tidak biasa dari kami? Hidup dalam satu atap! Itulah hal yang tidak biasa kami lakukan. Lalu, apakah kemudian semuanya terasa mudah? tentu saja tidak!

Saling berdebat dan mempertahankan argumen, juga hal biasa kami lakukan. Namun itu dulu, ketika si kecil belum hadir. Kini kondisinya sudah berbeda, si kecil berada di antara kami. Maka, mendiskusikan sesuatu hingga berdebat pun disaksikan si kecil.

Berhenti mendebatkan sesuatu di depan si kecil merupakan tantangan paling berat. Iya, sangat tidak mudah, apalagi jika emosi masing-masing dari kami sedang memuncak. Bahkan hal paling sepele sekalipun bisa saja diperdebatkan. Sayangnya, hal itu terjadi hampir setiap hari di jam-jam genting seperti pagi-pagi saat dimana kami segera ke kantor. Misalnya, setelah ayahnya memandikan si Kecil, lalu siapa yang akan memakaikan bajunya. Atau juga soal makan, siapa yang akan menyuapi si kecil? Ayahnya atau bundanya? Atau, mengajarkan si kecil makan sendiri. Tapi, jika si kecil makan dengan tangannya sendiri bisa berlangsung cukup lama. Sementara orang tuanya dalam kondisi terdesak harus ke kantor, begitu pun si kecil harus sekolah, dan masih banyak lagi hal yang tak pernah luput dari perdebatan. Siapa yang melakukan apa? Keputusan ini bahkan bisa sangat lama.

Jangan Ada Kompromi

Jika kita terbiasa berdebat depan si kecil, maka si kecil akan mencari peluang untuk berkompromi. Misalnya bundanya melarangnya untuk main di luar karena kekhawatiran yang berlebihan. Sementara, ayahnya memberi keleluasaan atau membolehkan. Maka jika ada dua pendapat berbeda dan si kecil mengetahuinya, si kecil akan mencari celah dan merajuk untuk mencari pilihan yang memihaknya.

Dengan berbeda pendapat dan perdebatannya diketahui si kecil, maka si kecil akan mencari peluang di sisi kelemahan perbedaan prinsip orang tuanya. Lebih dari itu, si kecil bisa jadi dengan mudahnya meremehkan aturan dan berusaha melanggarnya. Lalu ia akan mencari perlingungan yang menguntungkan dirinya. Alasannya, selain membuatnya nyaman di salah satu pihak, bisa jadi anak akan merasa kebingungan mana yang harus dia taati dan lakukan.

Trik Agar Tetap Sepaham dengan Pasangan

Bagi saya, trik-trik seperti ini sangat penting. Namanya juga trik alias strategi. Meskipun terkesan sepaham, tapi maksudnya bukan demikian. Kita bisa tetap berbeda, namun ada cara untuk terlihat sepaham di depan si kecil. Setidaknya kita bisa mulai dengan hal-hal berikut ini:

  • Usahakan tidak segera membantah pembicaraan pasangan. Misalnya, saat suami atau istri beda pendapat, salah satu dari kita usahakan tidak segera membantah.
  • Dengarkan pembicaraan pasangan sampai tuntas. Begitupun saat di antara kita sedang berbicara, misalnya menerangkan aturan, maka dengarkan dulu pasangan kita. Kadang memang tak sabar untuk menyela, namun justru ini yang harus dihindari.
  • Dilarang memutus dan menyela pembicaraan pasangan hingga menimbulkan pedebatan di depan si kecil.
  • Menahan diri dengan diam sejenak untuk menyimak dan berusaha mengerti yang dimaksud pasangan.
  • Diskusikan lagi apa yang dirasa kurang sepaham dalam pendapat yang diungkapkan pasangan saat tidak ada si kecil atau si kecil sudah tidur.

Nah, setelah semua proses itu, barulah pada saat kondisi sudah lebih nyaman, misalnya, menjelang tidur, lakukan diskusi, dan evaluasi. Di momen inilah kita bisa sampaikan keberatan atau perbedaan tersebut secara baik-baik. Momen di mana pasangan dalam kondisi tenang, nyaman dan tanpa emosi.

Jadi bagaimana? Bagi saya, semua trik itu juga awalnya terasa berat. Apalagi saat masih benar-benar baru menjadi orang tua. Namun, mari pikiran kita tetap terbuka demi kebaikan anak dan tujuan keluarga. Nah, perkembangan terkini, kami sudah semakin belajar bersabar menahan diri untuk tidak banyak berdebat di depan si kecil. Apalagi kami berkomitmen untuk mendisiplinkan si kecil. Lalu, bagaimana pengalaman kami dalam mendisiplinkan si kecil? Untuk pembahasan ini, mari saya lanjutkan di artikel saya berikutnya. Yang berjudul “Disiplin Bukanlah Hukuman”.

Curhat kali ini sementara itu dulu ya bunda, semoga kita tetap bisa saling berbagi pembelajaran dari sekian perjalanan rumah tangga masing-masing dari kita.

Salam hangat,

Alimah Fauzan

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About alimah 59 Articles
Seorang ibu, pembelajar, bekerja dan berkarya di Infest Yogyakarta. Inisiator Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bersama Infest Yogyakarta dan media pembelajaran perempuanberkisah.com. Sangat tertarik pada isu perempuan, gender studies, sosiologi komunikasi, pemberdayaan desa, parenting, filsafat, psikologi, tasawuf, dan isu sosial-politik. Tahun 2007, pernah berbagi kisah inspiratif di blog My Last Paragraph. Sejak 2015 sampai saat ini, masih berbagi pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal di perempuanberkisah.com. Tahun ini baru memulai berbagi pengalaman parenting dan cerita inspiratif lainnya di alimahfauzan.id. Saya bisa dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*