THOUGHT

Disiplinkan si Kecil Bukanlah “Hukuman”

Saya dan suami sangat berkomitmen agar anak kami mampu memahami kondisi orang tuanya. Sekilas, ini mungkin terdengar agak kejam. Terkadang kita salah mengartikan disiplin sama dengan hukuman, padahal itu tidak benar.

Sebenarnya disiplin adalah tingkah laku moral yang diajarkan dan yang dapat diterima oleh kelompoknya. Jadi, tujuannya adalah membentuk tingkah laku. Disiplin berperan besar dalam perkembangan si kecil, karena dengan diajarkan disiplin, si kecil juga belajar tingkah laku yang baik.

Bagi orang tua yang bekerja di luar rumah seperti kami, komitmen mendisiplinkan si kecil sudah dilakukan sejak si kecil mulai memahami pesan yang kami sampaikan. Misalnya pagi hari, maka paling lambat pada pukul 08.00 WIB kami harus sudah siap ke kantor. Artinya, sebelum menuju jam 08.00 WIB, ada serangkaian pekerjaan simpel yang harus kami lakukan. Simpel namun penuh tantangan, terutama tantangan mengajak si kecil bangun tepat seperti yang kami inginkan.

Lalu apa saja yang telah dan masih kami lakukan untuk mengurangi tantangan tersebut? Berikut beberapa hal yang bisa dipertukarkan urutannya.

Jelaskan Agenda Harian Keluarga

Benar bahwa ini hanyalah ritual harian. Namun, bukan berarti sebuah rutinitas seperti ini tidak ada tantangan. Katakanlah, tugas kami sudah mulai agak ringan karena anak kami tidak menonton tv atau apapun sebelum tidur. Dia bahkan telah terlelap sebelum pukul sembilan malam, bahkan pukul delapan. Namun, tantangan tetap hadir di hari-hari tertentu. Termasuk di hari-hari setelah libur panjang. Seakan si kecil sulit untuk move on dari kebiasaan liburnya. Satu minggu bahkan ada yang lebih. Akhirnya saat tiba waktu sekolah, si kecil mulai ogah-ogahan bangun.

Padahal, aktivitas malam hari dia tidak berubah alias dia tetap tidur sebelum jam 9 malam. Namun sejak dia mampu memahami kalimat kami, kami tak lelah menjelaskan agenda harian masing-masing anggota keluarga. Misalnya, saat dia memutuskan untuk main keluar setelah bangun tidur, saya segera menerangkan urutan agenda hari itu. Agenda Tara setelah bangun tidur adalah minum susu lalu disusul air putih. Karena sudah memasuki waktu pagi, maka susu yang dipilihnya adalah susu ultramimi rasa strowbery atau yang berwarna merah. Nah soal pilihan warna susu, bukan kami yang menentukan, itu sudah diatur oleh Tara sendiri. Setiap malam, dia akan minum susu berwarna coklat atau rasa coklat. Lalu, malam harinya adalah berwarna pink. Alhasil, soal susu ini, ayahnya rutin dua minggu sekali ke Lotte Mart untuk membeli 2 dus ultramimi dengan rasa stroberi dan juga rasa coklat.

Kembali lagi ke soal agenda. Iya, saya setiap hari terbiasa menerangkan panjang kali lebar tentang agenda harian kami di jam-jam tertentu. Misalnya urutan aktivitas berikut:

–-> Setelah bangun tidur dia harus minum susu dilanjut air putih
–-> Lalu, dilanjut sarapan dan terkadang mandi lebih dahulu, soal ini tergantung moodnya dia
—> Lalu, setelah mandi dia mulai bersiap memakai seragamnya
—> Setelah memakai seragam, dia akan main keluar sebentar di sekitar rumah sambil menunggu bundanya bersiap mengantarnya sekaligus berangkat ke kantor

Nah, itu contoh aktivitas paginya Tara. Urutan lengkapnya seperti itu, namun dalam realitanya, bisa jadi penuh drama atau malah sebaliknya begitu mulus. Persoalan mood dan weton (hari kelahiran) juga kadang berpengaruh. Soal weton ini gak perlu dibahas panjang lebar ya, tapi satu saat jika pembaca menjadi ibu akan menghadapi satu hari di mana anak kita tidak seperti hari-hari biasanya. Kalau menurut orang tua Jawa, karena di hari itu adalah wetonnya. Percaya atau tidak, hal seperti ini pun terjadi pada saya sebagai orang dewasa. Tapi intinya bukan harus percaya atau tidak, intinya adalah niscaya bahwa kita akan menghadapi tantangan berupa mood si kecil yang bisa sangat ekstrim.

Dalam perkembangannya, akhirnya si kecil pun terbiasa mengidentifikasi urutan aktivitasnya sendiri. Hingga tanpa kami jelaskan lagi, si kecil sudah berinisiatif melakukan aktivitas sesuai urutan. Lalu, bagaimana menghadapi tantangan agar si kecil mau menuruti kehendak kita? Masuk ke strategi berikutnya yaitu…

Setiap Hari adalah Hari Negosisasi

Tantangan orang tua setiap hari adalah komunikasi yang bertujuan menyampaikan pesan kepada anak kita, dan berharap dia memahaminya, dan sama-sama menyepakatinya. Penjelasan ini akan terdengar agak membosankan, namun ini penting. Karena goal-nya atau tujuannya adalah agar si kecil paham dan sepakat, maka salah satu strategi komunikasinya adalah negosiasi. So, setiap hari adalah hari negosiasi. Nego apakah mau mandi dulu ataukah makan dulu? Tapi bukan soal itu saja, kami juga harus sama-sama sepakat soal waktu. Pokoknya kami upayakan saja negosiasinya, persoalan kadar berhasilnya lebih cepat atau lambat, itu soal nanti. Yang penting obrolkan saja dulu dengan baik, detail, dan urut agar dia tidak bingung.

Tegas Bukan Berarti Lembut

Biasanya saya menyebutnya bahwa kasar tidak berarti tegas. Atau keras tidak berarti tegas. Jangan khawatir juga bahwa tegas bukan berarti lembut. Ini memang agak membingungkan, tapi mari kita belajar untuk tidak melepaskannya dari konteks. Rangkaian istilah ini terkesan sederhana, namun dalam praktiknya itu tidaklah mudah.

Dalam proses negosiasi, terkadang kita bisa saja terpancing amarah. Ini adalah tantangan yang sebenarnya, mengendalikan emosi. Meskipun pengalaman pribadi saya membuktikan saya lebih banyak gagalnya. Mungkin karena saya merupakan sosok yang gampang terpancing emosi. Saya bukanlah sosok bunda yang selalu bertahan untuk bersikap manis dan lembut.

Namun yang membuat saya heran, dengan keterbatasan saya sebagai yang tegas dan emosian ini, entah kenapa Tara justru menjadi sosok sebaliknya. Dia justru sangat lembut, penyayang, sensitif, suka menghibur dan merayu, dalam hal ini adalah melucu agar saya tertawa. Sifanya yang berlawanan dengan saya ini, pada akhirnya yang menyelamatkan kami dari intrik keluarga. Selain itu, semuanya juga bisa dengan mudah diatasi dengan saling meminta maaf. Saya minta maaf padanya, atau sering juga Tara yang minta maaf duluan.

Tips lainnya…

Demikian berdasarkan pengalaman kami dalam mengajak si kecil untuk disiplin. Selain pengalaman saya, masih banyak tips lainnya yang tak mungkin saya jelaskan panjang lebar. Namun percayalah bahwa tips tambahan berikut ini sudah terbukti, saya kutip dari buku “Membangun Karakter Anak Hebat” yang ditulis oleh Nadia Indivara (2014, hal: 151-152). Apa yang ada tertulis di tips berikut ini juga sudah kami terapkan sebelum bertemu buku ini. Namun sebagai bunda pembelajar, tentu apa yang tertulis di dalam buku ini sangat penting sebagai pembelajaran kita.

  • Jangan hanya memarahi tapi beri contoh dan ajari si kecil bagaimana bersikap baik
    Pilih kata-kata positif;
  • Beri penjelasan untuk setiap larangan, jangan sekalipun mengancam memberinya hukuman
    Sekali-kali kita perlu juga bersikap fleksibel;
  • Jangan lupa untuk memberi reward (penghargaan), kebetulan kami terbiasa saling memuji atas keberhasilan sekecil apapun yang kami lakukan di rumah;
  • Jangan berdebat dengan pasangan soal pengasuhan anak. Apalagi berdebat di depan si kecil
  • Larangan/aturan harus jelas. Misalnya: tidak boleh bermain jauh dari rumah. Nah, kita harus menjelaskan jauhnya itu sampai di mana? Apa batasannya. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti si kecil;
  • Aturan hendaknya proporsional, jadi tidak bersifat mengekang, membatasi, bahkan mematikan keinginannya bereksplorasi;
  • Jelaskan mengapa aturan/larangan ini dibuat;
  • jika si kecil sudah agar besar, buat kesepakatan dengan si kecil mengenai aturan yang kita terapkan.
  • Jadi ada komitmen dari si kecil untuk menaati aturan yang dibuat bersama;
  • Mulai dari hal-hal yang kelihatannya kecil. Misalnya: mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi sebelum tidur, dan lain-lain;
  • Mulai dari hal-hal yang kelihatannya kecil. Misalnya mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi sebelum tidur, dan lain-lain;
  • Beri perhatian atau pujian saat si kecil bersikap baik;
  • Sebagai orang tua kita juga harus disiplin. Ingat, si kecil mencontoh ayah dan ibunya.

Bunda, demikian beberapa hal penting terkait mendisiplinkan si kecil. Apa yang saya ceritakan berdasarkan pengalaman saya mungkin juga berbeda, karena pengalaman pengasuhan itu sangat pribadi ya bun. Tapi tips tambahan yang saya sebutkan dari buku mba Nadia semoga bermanfaat sebagai referensi pembelajaran kita. Saya sendiri sebelum membaca buku itu merasa, bahwa apa yang sudah saya lakukan sudah sesuai buku itu. Namun, ada juga beberapa hal yang saya belum lakukan.

Sementara itu dulu ya, terimakasih sudah membaca.

Salam hangat dari bunda pembelajar,

Alimah Fauzan

 

Sharing is caring!

Paragraf lainnya

Tagged , , , , , , , ,

About alimah

Seorang ibu, pembelajar, bekerja dan berkarya di Infest Yogyakarta. Inisiator Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bersama Infest Yogyakarta dan media pembelajaran perempuanberkisah.com. Sangat tertarik pada isu perempuan, gender studies, sosiologi komunikasi, pemberdayaan desa, parenting, filsafat, psikologi, tasawuf, dan isu sosial-politik. Tahun 2007, pernah berbagi kisah inspiratif di blog My Last Paragraph. Sejak 2015 sampai saat ini, masih berbagi pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal di perempuanberkisah.com. Tahun ini baru memulai berbagi pengalaman parenting dan cerita inspiratif lainnya di alimahfauzan.id. Saya bisa dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com.
View all posts by alimah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *