Bon Cabe untuk Seragam

“Uang hasil jualan bon cabe ini untuk membeli seragam anak-anak. Katanya mereka ingin punya seragam, entah baju atau kaos yang penting ada seragam biar tambah kompak.” (Fatimah)

Sembari menghitung jumlah bon cabe yang sudah dikemas, ibu Fatimah terus bercerita tentang anak-anak yang belajar di rumahnya. Bon cabe adalah salah satu produk anak-anak Sekolah Alam Wangsakerta. Bon cabe yang mereka produksi dari hasil cabe yang mereka tanam sendiri. Cabe organik dari pupuk yang juga mereka ciptakan sendiri.

“Bon Cabe En” adalah salah satu produk anak-anak Sekolah Alam di Dusun Karangdawa, Desa Setupatok, Kecamatan mundu, Kabupaten Cirebon. Produk ini juga dibuat dari cabe-cabe yang mereka tanam. Selain cabe, mereka juga menanam beragam sayuran organik. Pupuk organik yang mereka gunakan juga mereka buat sendiri. Cabe organik ini juga yang membuat produk bon cabe mereka bertahan lama.

Sekolah Alam Wangsakerta diiniasi oleh Yayasan Wangsakerta. Farida Mahri adalah salah satu pendiri sekaligus community organizer yang secara suka rela menggerakkan anak-anak dan kelompok perempuannya. Bersama ibu Fatimah, perempuan tani, yang terus bersemangat berbagi sumber daya dalam menggerakkan warga. Jadi, Fatimah tidak sendirian, ada sosok yang selalu siap menemani, memotivasi, dan bergerak berjuang bersamanya. Dia adalah Farida Mahri. Mba Ida, demikian saya biasa menyapanya, ia adalah sosok langka di tengah para aktivis pencari panggung.

Jam terbang mba Ida sebagai community organizer tak lantas membuatnya jual mahal. Dia ke desa bukan karena diundang untuk ada di sana. Namun sebaliknya, ia datang sendiri dengan segenap niat mulia dan aksi nyatanya untuk perubahan sosial.

Pada Senin (29/01/84), akhirnya untuk kali kedua saya berhasil menemuinya. Dalam perjalanan menuju kantor Yayasan Wangsakerta, saya sempat nyasar ke dusun-dusun sunyi dengan jalanan yang ekstrim. Setidaknya, jika dibandingkan dengan desa-desa di Kabupaten Cirebon yang pernah kukunjungi. Berjam-jam nyasar, akhirnya saya sampai di Dusun Karangdawa di Desa Setupatok, Mundu. Salah satu kata kunci menemukan rumah ibu Fatimah adalah ibu “Farida” yang mengarah pada Farida Mahri.

Nama mba Ida sudah lebih dikenal di sekitar warga dusun, daripada nama pemilik rumah yang sekarang mereka manfaatkan sebagai kelas. Rumah itu juga sekaligus kantor Yayasan Wangsakerta. Yayasan yang kini setia menemani anak-anak miskin putus sekolah di Dusun Karangdawa. Di sanalah, anak-anak itu belajar dan berkarya. Bicara yayasan, mungkin yang muncul di pikiran kita adalah sebuah wadah besar dengan sekian aset sumber daya. Tapi Yayasan Wangsakerta tidaklah demikian. Kini yayasan ini hanya ada 3 orang yang menggerakkan. Motor penggerak utamanya adalah Farida Mahri, lalu ada ibu Fatimah, dan Siska, mahasiswi yang memilih “live in” mendampingi anak-anak di dusun ini.

Dengan segala keterbatasan sumber daya, tim Wangsakerta tetap mampu bergerak. Tanpa ada sumber dana dari mana pun. Tanpa adanya dukungan sumber daya manusia yang begitu banyak. Namun mereka masih memiliki niat baik, semangat bergerak, kapasitas pengetahuan dan pengalaman, sekaligus pendekatan maupun strategi pembelajaran inovatif yang tak pernah habisnya.

Belajar, Berkarya dan Berdaya

Di kota-kota besar, mungkin kita sering mendengar tentang Sekolah Alam yang mematok biaya selangit, alias muahal banget. Lalu bagaimana dengan Sekolah Alam Wangsakerta? Tentu saja mereka belajar dengan gratis. Anak-anak yang belajar di sana adalah anak-anak miskin putus sekolah di jenjang penidikan yang berbeda. Ada yang tidak melanjutkan sekolah tingkat dasar, pertama, dan menengah. Alasan mereka pun beragam, mulai dari ketiadaan biaya pendidikan, tidak adanya dukungan orang tua, memilih membantu orang tua bekerja, hingga alasan ketidaksukaan serta ketidaknyamanan atas sistem pendidikan di sekolahnya.

Bersama Sekolah Alam Wangsakerta, mereka tak sekadar memiliki teman belajar yang istimewa. Mereka juga mampu berkarya dengan apa yang mereka bisa. Karya mereka inilah yang diharapkan mampu membuat mereka berdaya di masa depan. Kini mereka sudah mulai menghasilkan karya mereka sendiri. Salah satunya adalah produk bon cabe, atau cabe kering dari cabe yang selama ini mereka tanam secara organik. Bon cabe ini dapat bertahan cukup lama karena diproduksi dari tanaman organik.

Mengajak anak-anak miskin untuk mau belajar di Sekolah Alam Wangsakerta bukanlah hal mudah. Tim Wangsakerta terus menghadapi sekian tantangan. Bukan hanya tantangan dari orang tua, kebiasaan warga sekitar, pemerintah setempat, dan termasuk dari anak-anak itu sendiri. Namun dari sekian tantangan itu, hal terberat yang mereka hadapi adalah bagaimana agar anak-anak bisa fokus belajar. Namun selalu ada strategi yang kemudian mampu membangkitkan semangat mereka lagi.

Lalu Dimana Pemdes?

Saat desa-desa lain tengah bersemangat menyambut sekian kebijakan yang menguntungkan desa, di desa ini seakan tak ada yang berubah. Pemdes yang masih gagap dalam menjalankan program pembangunannya. Kegagapan pun kemudian menular pada kelembagaan di desa dan sejumlah kelompok yang ada di desa. Baik itu kelompok perempuan, kelompok wanita tani, pemuda, juga organisasi keagamaan yang ada di desa. Begitu kayanya sumber daya manusia dan alam, namun persoalan anak-anak miskin putus sekolah tak tersentuh. Belum lagi persoalan nikah dini dan sejumlah persoalan sosial lainnya yang menimpa kaum marjinal di desa.

Di Desa lain di Kabupaten Cirebon, saya juga sempat mendapat curhatan dari kelompok perempuannya. Namun saya berkesempatan membicarakannya dengan Pemdes, sejak pertemuan pertama dengan Pemdes, saya pun akhirnya paham bahwa Pemdes masih gagap merumuskan pembangunan di desanya. Kebodohan yang bersekutu dengan ketidakpedulian telah menutup sekian potensi yang dimiliki desa.

Memanjakan Pemdes dengan sejumlah pelatihan di hotel mewah, tidak menjamin bahwa mereka akan bergerak melakukan perubahan. Apalagi hanya sekian jam atau sekian hari dengan metode yang membosankan. Metode pembelajaran yang tidak menggugah kesadaran. Sayangnya, saat ini yang terjadi demikian.

Kan sudah ada Undang-Undang Desa? Yakin bahwa semua Pemdes saat ini paham UUDesa? Jika tidak yakin bahwa mereka semua paham, berarti pendekatan pemerintah melakukan sosialisasi UUDesa masih belum tepat. Terbukti masih banyak Pemdes yang gagap merumuskan program bersama warganya. Buktinya mereka hanya bekerja di ranah layanan adimistrasi, mereka lupa atau entah tidak paham bahwa layanan publik bukan sekadar layanan administrasi. Lebih dari itu ada layanan pengadaan barang publik dan jasa publik yang dibutuhkan warganya.

Ah, rasanya bisa semakin panjang dan kali lebar kalau saya harus menuliskan semuanya.

Jadi sekian dulu dan akan saya lanjutkan lagi dengan fokus yang berbeda. Oh ya, sumber foto semuanya dari facebook mba Farida Mahri.

Salah hangat dari saya,

Alimah Fauzan

Spread the good inspiration
  • 57
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    57
    Shares
  •  
    57
    Shares
  • 57
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About alimah 59 Articles
Seorang ibu, pembelajar, bekerja dan berkarya di Infest Yogyakarta. Inisiator Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bersama Infest Yogyakarta dan media pembelajaran perempuanberkisah.com. Sangat tertarik pada isu perempuan, gender studies, sosiologi komunikasi, pemberdayaan desa, parenting, filsafat, psikologi, tasawuf, dan isu sosial-politik. Tahun 2007, pernah berbagi kisah inspiratif di blog My Last Paragraph. Sejak 2015 sampai saat ini, masih berbagi pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal di perempuanberkisah.com. Tahun ini baru memulai berbagi pengalaman parenting dan cerita inspiratif lainnya di alimahfauzan.id. Saya bisa dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*