Kenali & Cermati Cara Belajar Anak

“Menurut Tara kenapa mobilnya bisa jalan?”

Setiap saat, anak kami, Bentara Falasifa Fauzan (Tara), bisa secara spontan bertanya tentang sesuatu. Seperti anak-anak lainnya, tahap seperti ini pasti dirasakan orang tua. Jika dia bertanya, saya biasanya akan menanyakan balik tentang pendapatnya. Termasuk ketika tiba-tiba dia bertanya “Mengapa mobilnya bisa jalan?”. Pertanyaan semacam ini bisa jadi dia sendiri sudah mengetahui jawabannya. Tapi kenapa dia tetap bertanya? Bukankah dia sendiri sudah tahu jawabannya? Apakah dia ingin menguji jawaban orang tuanya dan mencocokkan dengan jawaban yang dia pikirkan? Atau dia memang benar-benar tidak tahu atau lupa? Karena terlalu sering diberi pertanyaan tentang sesuatu oleh anak kami, kami sering menebak bahwa sepertinya dia menginginkan jawaban orang tuanya sama seperti yang dia pikirkan.

Dalam merespon jenis pertanyaan yang terkadang pernah ditanyakan si kecil, kami biasanya tetap menjawab dengan pelan dan detail. Begitupun logika sebab akibat dari sesuatu yang dia tanyakan. Namun ketika si kecil sudah mulai sering bertanya sesuatu yang pernah dia tanyakan, atau sesuatu yang kami yakini dia sendiri sebenarnya mampu menjawabnya, maka kami akan bertanya balik kepadanya.

Bertanya balik tentang apa yang dia pikirkan atas sesuatu yang dia tanyakan, awalnya sangatlah berat baginya. Memang, apa yang dia tanyakan, pada akhirnya membuatnya tertantang untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan. Kami pun akan dengan sabar menanti jawabannya, termasuk saat dia menjawab cukup lama karena menjabarkan sesuatu dengan detail.

Menjawab berdasarkan sudut pandangnya atas sesuatu, memang membutuhkan waktu yang lama. Apalagi untuk anak di usia 3 atau 4 tahun. Termasuk ketika dia bertanya “Mengapa mobilnya bisa berjalan?”. Lalu, saya bertanya balik padanya “Menurut Tara, mengapa mobilnya bisa berjalan?”. Di usianya yang memasuki 4 tahun, saat itu dia sudah mulai memahami istilah “menurutmu?” untuk mempersingkat kalimat tanya “apa pendapatmu?”. Sehingga Tara pun tidak mempermasalahkan istilah yang digunakan saya.

Kembali lagi ke beberapa petanyaan berikut:

Tara : “Bunda, mengapa mobilnya bisa berjalan?”
Bunda : “Menurut Tara, mengapa mobilnya bisa berjalan?”
Tara : “Karena mobilnya punya energi”
Bunda : “Energi? Energi apa?”
Tara : “Energi minyak bumi yang masuk ke engine mobil, trus mobilnya bergerak jalan deh!”

(engine adalah istilah yang sering dipakai Tara untuk menyebut mesin)

Nah, pada tahap itu, saya teringat bagaimana menjelaskan kepada Tara tentang energi dan macam-macamnya. Saya ingat, kali pertama menjelaskannya adalah dengan mind mapping atau peta pikiran. Saya tidak menyangka dan bahkan kaget ternyata dia masih mengingatnya. Padahal saya menerangkan tentang energi kepadanya sudah beberapa bulan sebelumnya. Saat itu adalah kali pertama saya mempraktikkan mind mapping kepada anak saya sendiri. Biasanya mind mapping selalu saya praktikkan kepada para mahasiswa saya atau saat fasilitasi forum dengan warga di desa.

Apa itu Mind Mapping?

Kali pertama mempraktikkan mind mapping, saya juga sempat dikritik suami karena menurutnya terlalu dini menjelaskannya tentang energi. Padahal, saat itu saya menggunakan mind mapping. Saya memulainya dengan membuat gambar matahari, lalu mobil, dan seterusnya. Sambil menggambar, saya juga terus bertanya padanya untuk merangsang apa yang dia pikirkan berikutnya. Saya tidak sampai berpikir bahwa dia akan terus mengingatnya sejak itu, bahkan setelah beberapa bulan berlalu.

Pada tahap awal, akan kita akan terlebih dahulu mengetahui, memahami dan mempraktikkan mind mapping, maka kita sebagai orang tua terlebih dahulu memahaminya. Apa yang saya tuliskan di sini, pada dasarnya juga sebagai salah satu cara saya belajar. Atau, anggap saja saya mencari teman untuk belajar. Karena teman belajar, maka bisa jadi anda lebih paham soal ini daripada saya yang juga baru memahaminya.

Mind mapping atau peta pikiran merupakan sebuah jalan pintas yang bisa membantu siapa saja untuk mempersingkat waktu sampai setengahnya untuk menyelesaikan tugas. Penemu teknik mind mapping adalah Tony Buzan. Menurutnya, dengan memanfaatkan gambar dan teks ketika seseorang mencatat atau mengeluarkan suatu ide yang ada di dalam pikiran, kita telah menggunakan dua belahan otak secara sinergis.

Jadi, bila sejak kecil anak dibiasakan menggunakan peta pikiran, kapasitas otaknya pun akan bertambah. Berikut adalah beberapa manfaat mind mapping:

  • menumbuhkan rasa percaya diri anak
  • mengasah kreatifitas
  • mengasah berpikir
  • mengasah rasa ingin tahu
  • melatih konsentrasi

Mengapa Mind Mapping?

Lalu, mengapa anak perlu belajar mind mapping atau peta pikiran? Dan, mengapa kita sebagai orang tua juga perlu belajar mind mapping? Salah satu buku tentang mind mapping yang saya baca adalah buku “Gembira Belajar dengan Mind Mapping” yang ditulis oleh Femi Olivia. Menurutnya, karena mind mapping dapat mensinergikan otak kiri dan kanan. Dengan begitu, anak akan “cinta” belajar, dan tidak stres lagi kalau ujian menghadang.

 

Banyak orang tua yang sukses di tempat kerja dan berprestasi sejak kecil. Namun sang buah hati justru “jeblok”. Sehingga orang tua merasa bahwa anaknya tidak “mewarisi” kepandaiannya dalam belajar. Memang sebagai orang dewasa, kita mungkin menguasai banyak hal tentang pekerjaan, klien, atau menyelesaikan masalah-masalah dengan mudah. Namun meminta anak kita untuk belajar merupakan tantangan tersendiri. Belajar tentang apapun, termasuk secara bretahap belajar beribadah, menghapal pelajaran, surat-surat atau ayat dalam kitab suci, dan hapalan-hapalan lainnya. Bahkan bisa jadi kesabaran pun habis dan anak pun jadi “dipaksa” atau “dicuekin” saja.

Hal ini disebabkan kita tidak “mengenal” atau mencermati” bagaimana anak kita belajar selama ini. Banyak orang tua yang menjadikan dirinya sendiri sebagai patokan “kecerdasan” anak. Padahal buah hati kita adalah “gabungan” dari diri kita dan pasangan. Dengan kata lain, anak kita akan mewarisi keterampilan belajar kita atau pasangan.

Tak heran bila dulu kita kesulitan belajar membaca, mungkin saja anak kita akan mengalaminya. Jika dulu kita tidak suka pelajaran IPS, anak juga kurang menyukai pelajaran hafalan. Apalagi pelajaran hafalan, terutama IPS, PA, dan Bahasa memang sering jadi momok bagi anak-anak tingkat sekolah dasar. Mereka menganggap pelajaran itu sulit dan bikin pusing.

Belajar & Praktik Bertahap

Bunda, tujuan saya menulis ini tidak lain adalah karena saya juga baru belajar dan sesekali mempraktikkan ke anak saya. Biasanya saya hanya praktikkan kepada mahasiswa saya atau ibu dan bapak di desa yang saya fasilitasi. Namun, belajar sendiri dan praktikkan untuk anak kita yang masih balita memang tidaklah mudah. Tapi jika ada bunda yang sudah praktikkan, senang sekali jika mau berbagi di sini, atau undang saya untuk berkunjung blog bunda. Nah, ini adalah baru tulisan tahap #1 untuk belajar mind mapping tahap. Saya akan secara rutin melanjutkan tiap tahapan berikutnya dari apa yang sudah saya baca dan praktikkan.

Demikian bunda, senang sekali bisa berbagi sesuatu yang saya sendiri baru mempelajarinya.

Salam hangat,

Alimah Fauzan

 

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About alimah 59 Articles
Seorang ibu, pembelajar, bekerja dan berkarya di Infest Yogyakarta. Inisiator Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bersama Infest Yogyakarta dan media pembelajaran perempuanberkisah.com. Sangat tertarik pada isu perempuan, gender studies, sosiologi komunikasi, pemberdayaan desa, parenting, filsafat, psikologi, tasawuf, dan isu sosial-politik. Tahun 2007, pernah berbagi kisah inspiratif di blog My Last Paragraph. Sejak 2015 sampai saat ini, masih berbagi pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal di perempuanberkisah.com. Tahun ini baru memulai berbagi pengalaman parenting dan cerita inspiratif lainnya di alimahfauzan.id. Saya bisa dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Guru Terhebat Adalah Kita Sendiri – Cerita Bunda Pembelajar
  2. Ketika Menghafal Terasa Berat – Cerita Bunda Pembelajar

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*