Karena Pintar Saja Tidak Cukup

Spesies yang bertahan hidup bukanlah yang paling kuat, bukan pula yang paling cerdas. Yang dapat bertahan hidup adalah dia yang paling mampu menghadapi perubahan. (Charles Darwin, 1809-1882)

Suatu hari seseorang yang tak perlu saya sebutkan namanya, menceritakan bahwa anaknya si ibu anu sudah menghapal beberapa surat pendek. Sementara anak saya belum menghapal sebanyak anaknya ibu anu. Saya mencoba mendengar omongannya sampai tuntas, memahaminya, dan membaca mimik wajahnya. Saya terbiasa membaca raut muka seseorang. Termasuk saat si ibu tersebut berbicara dengan sedikit sinis. Usia Tara saat itu sekitar dua tahunan.

Mendengar anak kita dibandingkan dengan anak lain, apa yang harus kita lakukan? Saya adalah seorang ibu yang pernah melalui masa kanak-kanak, abege, dan kini dewasa. Di setiap masa, pikiran saya merekam banyak hal, termasuk bagaimana orang lain memperlakukan saya. Maka, berdasarkan serangkaian ujian, saya cukup peka atas apa yang dirasakan anak saya.

Kembali lagi ke sang ibu secara terang-terangan membandingkan anak saya dengan anak orang lain. Saya memilih hanya mendengarkan dan tersenyum, saya tidak marah karena saya terbiasa menghadapi orang yang suka membanding-bandingkan. Saya memiliki cara pandang tersendiri bagaimana menilai anak saya di usianya yang masih balita. Selalu ada sisi positif yang mampu saya lihat dari anak saya. Sisi lain di luar kemampuan menghapalnya atas sesuatu. Apa itu? Yaitu kekuatan dan kebaikan hatinya.

Pintar menghapal sesuatu bagi saya bukan sesuatu yang penting di usianya saat ini. Ini bagi saya yang lebih memilih terus menjadi temannya. Termasuk mengasah kekuatan dan kebaikan hatinya, bukan mengasah hapalannya. Dalam setiap penerimaan laporan perkembangannya, saya akan merasa bahagia dan tenang bahwa si kecil suka berbagi makanan dengan temannya. Bangga bahwa si kecil tidak menertawakan temannya ketika salah satu dari mereka ada yang keliru. Tenang bahwa dia tetap menikmati prosesnya dalam mempelajari banyak hal.

Lalu. apa yang sebenarnya kita pikirkan dan tuntut dari seorang anak kecil yang masih belajar memahami banyak hal? Sampai kita tak menyadari betapa sering sekali kita membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Jika saat ini muncul di pikiran kita untuk terus membandingkan mereka, maka cukup analisa di pikiran kita saja. Jangan sampai hal tersebut keluar dari pikiran kita melalui perkataan dan sikap kita. Karena setiap anak adalah istimewa.

Kekuatan &  Kebaikan Hati

Sampai sekarang, saya selalu berusaha membesarkan hati si kecil. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Istilah “membesarkan hati”, bagi saya bukan sekadar melindunginya dari merasa “berkecil hati”. Lebih dari itu, mampu membuatnya kuat, tegar, dan kokoh dari segala hal yang berpotensi menyakiti tubuh, perasaan, maupun jiwanya.

Sejak usia sekitar 1 tahunan, ketika dia sedang bermain dengan seorang teman, lalu sang teman berkata kasar atau bermain fisik, maka saya akan segera memeluknya. Teman tersebut biasanya usianya lebih tua darinya. Selain memeluk, saya bisikkan telingannya bahwa dia kuat dan ada ayah bunda yang menyayanginya.

Saya juga biasanya selektif memilih lingkungan untuk dia bermain. Jika di sekitar rumah kami ada anak tetangga yang cenderung temperamen dan suka melakukan bully, mengancam dan menakut-takuti, maka kami memilih untuk membuat anak kami sibuk di rumah atau di luar rumah yang tak terjangkau teman yang kasar itu. Jadi, dia lebih bermain dengan teman-temannya di sekolah fullday. Dulu, saat di rumah, dia hanya sesekali bermain dengan anak tetangga, karena dia sudah sibuk dengan memberi makan ikan di kolam, akuarium, menggambar, bercerita banyak hal dengan kami dan membaca buku cerita bergambar.

Namun kini dia mulai menjadi sosok yang cukup siap menghadapi teman-temannya yang suka mengganggu. Dia bahkan mampu merangkul mereka untuk bermain bersama di rumah maupun di luar rumah. Kami selalu berusaha sebisa mungkin membicarakan dengannya tentang alasan-alasan kenapa dia harus tetap baik. Bahkan kepada teman yang sering mengganggu dia sekalipun. Kami cukup aktif mengawal setiap kalimat yang dia keluarkan, apalagi jika kalimat-kalimat tersebut dapat menyinggung temannya.

Fokus pada Kreativitas Anak

Kami memang berusaha agar anak kami tumbuh bukan dengan jiwa penakut. Bukan sebagai jiwa yang suka mengecam, membuli, dan mengancam. Dalam perkembangannya, kini dia mulai mampu mengidentifikasi setiap karakter teman-temannya. Dia juga cukup tangguh saat berada di tengah mereka yang memiliki kecenderungan melakukan kekerasan. Dia justru merangkul mereka dan akhirnya teman-teman yang suka membuli pun berbalik menyayanginya.

Kini, setelah anak kami sudah mulai mampu bersikap dan melindungi dirinya dengan cara yang baik. Sehingga bukan konflik berkelanjutan, namun justru melekatkan persaudaraan dengan teman-temannya. Kami pun kembali fokus bagaimana menggali dan mengembangkan potensi si kecil.

Mengidentifikasi bakat si kecil bukanlah proses sekali masa lalu selesai. Karena proses ini terus bertahap. Satu saat dia sangat suka menggambar, lalu di kemudian hari dia lebih suka bercerita dan berinovasi dengan mainan-mainan atau alat tertentu, demikian seterusnya. Kondisi seperti ini membuat kami terus belajar tentang perkembangan si kecil. Termasuk bagaimana menstimulasi otak kanan dan otak kirinya. Dalam dunia parenting, yang saya baca dari buku Femi Olivia yang berjudul ‘Meroketkan Kekuatan Otak Kanan dengan Jurus Biodrawing’.

Mengenal Biodrawing

Menurut Femi Olivia dalam bukunya, biodrawing adalah sebuah cara sederhana dalam menstimulasi otak kanan dengan cara menggambar. Metode Biodrawing dikembangkan berdasarkan brain-based learning (belajar berasarkan otak) dan multiple intelligence (kecerdasan majemuk, terutama kecerdasan visual spasial.

Metode Biodrawing diramu untuk membantu orangtua, guru, dan peminat pendidikan anak untuk menstimulasi anak belajar lewat gambar. Cara-cara Biodrawing cukup praktis dan sederhana sehingga mudah diterapkan. Pun boleh dimodifikasi lebih lanjut sesuai kreativitas anak dan orangtua.

Istilah Biodrawing sendiri berasal dari otak yang merupakan bio superkomputer ditambah gambar (drawing) yang lantas digabungkan menjadi Biodrawing. Jadi Biodrawing kurang lebih artinya mengaktifkan otak supaya lebih cemerlang, khususnya otak kanan dengan stimulus menggambar.

Kegiatan Biodrawing bukanlah sekedar kegiatan menggambar. Tujuan kegiatan ini selain untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan anak, juga untuk mengembangkan kecerdasan visual spasialnya. Bagaimana caranya? Biodrawing mudah dipraktikkan, bahkan tak perlu biaya mahal. Biodrawing tidak mengharuskan orangtua jago menggambar. Yang diperlukan adalah sedikit kreativitas untuk menciptakan berbagai kegiatan yang menarik dan menyenangkan. Contoh dengan mengajak anak menggambar terbalik atau menggambar menggunakan tangan kanan dan kiri sekaligus, atau dengan berjalan-jalan melihat pemandangan dan objek alam. Dengan begitu, tanpa terasa anak sudah mahir menggambar dan membuat coretan tanpa takut tidak bisa menggambar.

Karena kelebihan-kelebihannya itulah, Biodrawing menstimulasi otak kanan, meningkatkan daya ingat, membekali anak kemampuan mengatasi stress, melatih motorik halus anak, serta merangsang rasa ingin tahu anak.

Demikian bunda, mari kita belajar bertahap jika di antara bunda juga baru belajar tentang biodrawing. Senang sekali jika kita bisa berlanjut ke bagian ke-2.

Salam hangat,

Alimah Fauzan

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

03 comments on “Karena Pintar Saja Tidak Cukup

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *