Ketika Menghafal Terasa Berat

Tokoh-tokoh brilian tersohor seperti, Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso dan Winston Churcill pun ternyata menggunakan gambar-gambar yang mirip suatu susunan cara berpikir dalam catatan pelajaran mereka saat bersekolah.

Pada cerita saya di “Belajar Mind Mapping #1” dan “Belajar Mind Mapping #2, kita sudah mulai mengenal apa itu mind mapping. Namun di awal paragraf ini, saya kutip lagi untuk mengingatkan kita tentang mind mapping yang ditemukan oleh Tony Buzan yang juga dikutip oleh Femi Olivia dalam bukunya yang berjudul “Gembira Belajar dengan Mind Mapping”. Bahwa, dengan memanfaatkan gambar dan teks ketika seseorang mencatat atau mengeluarkan suatu ide yang ada di dalam pikiran, maka kita telah menggunakan dua belahan otak secara sinergis. Apalagi jika dalam peta pikiran itu kemudian ditambahkan warna-warni dan hal-hal yang memperkuat emosi.

Mind mapping atau peta pikiran merupakan sebuah jalan pintas uang bisa membantu siapa saja untuk mempersingkat waktu sampai setengahnya untuk menyelesaikan tugas. Jika setiap sejak kecil anak dibiasakan menggunakan peta pikiran, kapasitas otaknya pun akan bertambah (Femi Olivia, 2009: 7).

Dijejali berlembar-lembar catatan, belum tentu anak mudah memahaminya. Apalagi dia hanya belajar saat ujian, malam belajar pagi ujian. Ibarat orang yang sudah kekenyangan tapi masih terus dipaksa makan dan makan. Maka ia akan kesulitan “menggambarkan” atau memvisualisasikan apa yang telah dipelajarinya. Karena pelajaran yang sudah dipelajari olehnya semalaman tetap tidak bisa “terpatri” dengan baik di otaknya.

Usai ujian, bisa jadi langsung lupa. Ini bukan pembelajaran namanya. Yang namanya belajar, kita akan ingat terus apa yang dipelajari. Kelemahan tersebut bisa ditangkit dengan mind mapping. Otak didesain untuk mencari makna. Sel-sel saraf otak akan tumbuh ‘hebat’ apabila diberi tantangan dan rangsangan-rangsangan baru. Hasil riset Roger Sperry (ahli biologi peraih hadiah Nobel dalam bidang fisiologi dan kedokteran tahun 1981), menunjukkan bahwa otak memiliki dua belahan yang masing-masing bekerja secara sangat berbeda.

Pada dasarnya, otak kiri bersifat rasional, dan otak kanan lebih emosional. Menurut penelitian Roger Sperry, otak juga amat merespon baik terhadap kata-kata kunci, gambar, warna, serta adanya asosiasi secara langsung. Tugas merespon ini dilakukan oleh kedua fungsi otak tadi. Tokoh-tokoh brilian tersohor seperti, Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso dan Winston Churcill pun ternyata menggunakan gambar-gambar yang mirip suatu susunan cara berpikir dalam catatan pelajaran mereka saat bersekolah.

Peta pikiran dibentuk oleh kata, warna, garis, dan gambar. Menyusunnya pun tak sulit, bisa dilakukan anak hingga dewasa dan diterapkan untuk keperluan apa saja. Anak saya kebetulan berusia 4,5 tahun, dan anak 4 tahun juga sudah bisa membedakan gambar. Menyusunnya pun tak sulit, bisa dilakukan anak hingga dewasa dan diterapkan untuk keperluan apa saja. Anak 4 tahun saja sudah bisa membedakan gambar dan mengimajinasikan atau mengasosiasikan yang merupakan hal-hal dasar dari peta pikiran. Tulisan atau kata-kata bukanlah syarat utama yang harus ada dalam peta pikiran.

Jadi, jika sejak kecil dibiasakan menggunakan peta pikiran, kapasitas otaknya pun akan bertambah. Anak akan terbiasa menghasilkan ide-ide. Di samping terlatih memecahkan masalah atau mencari solusi dari cara berpikir yang simultan dan kreatif. Peta pikiran membantu anak membuat catatan pembelajaran lebih menarik, mudah diingat sekaligus mudah dimengerti.

Apa saja manfaat yang diperoleh anak?

Di pembahasan “Belajar Mind Mapping #1”, saya sudah secara singkat menuliskan manfaatnya. Namun dalam pembahasan kali ini lebih detail seperti yang sudah ditulis oleh Femi Olivia dalam bukunya (2009:8):

  • Membantu anak untuk berkonsentrasi (memusatkan perhatian) dan lebih baik dalam mengingat
  • Meningkatkan kecerdasan visual dan ketrampilan observasi
  • Melatih kemampuan berpikir kritis dan komunikasi
  • Melatih inisiatif dan rasa ingin tahu
  • Meningkatkan kreativitas dan daya cipta
  • Membuat catatan dan ringkasan pelajarn dengan lebih baik
  • Membantu mendapatkan atau memunculkan ide atau erita yang brilian
  • Meningkatkan kecepatan berpikir dan mandiri
  • Menghemat waktu sebaik mungkin
  • Membantu mengembangkan diri serta merangsang pengungkapan pemikiran
  • Membantu menghadapi ujian dengan mudah dan mendapat nilai yang lebih bagus
  • Membantu mengatur pikiran, hobi, dan hidup kita
  • Melatih koordinasi gerakan tangan dan mata
  • Mendapatakan kesempatan lebih banyak untuk bersenang-senang
  • Membuat tetap fokus pada ide utama maupun semua ide tambahan
  • Membantu menggunakan kedua belahan otak yang membuat kita ingin terus menerus belajar

Bunda, mari terus belajar dan praktikkan cara menumbuhkan rasa percaya diri anak kita mulai sekarang. Dengan cara mengasah kreativitas, berpikir kritis, rasa ingin tahu, dan konsentrasinya lewat mind mapping. Jadi, tertarikkan kita sebagai orang tua untuk mempraktikkan mind mapping dalam proses pembelajaran anak kita? Jika bunda sendiri baru mengenal mind mapping, maka sama dengan saya. Saya memang sudah mengenal dan mempraktikkan mind mapping, tapi selama ini saya hanya saya praktikkan pada mahasiswa dan juga orang dewasa (Ibu dan bapak) di desa. Yang masih menjadi tantangan saya saat ini adalah menerapkannya untuk anak saya sendiri. Dan itu tidak mudah. Karena tidak mudah, maka mulai saat ini, saya menuliskan strategi yang saya pelajari dari buku. Saya menulis ini bukan berarti saya sudah bisa, karena saya pun sambil belajar kembali.

Di pembahasan selanjutnya, kita akan memasuki teknik mind mapping secara bertahap. Hmmm…semoga saya bisa memahaminya juga. Terimakasih dan semoga bermanfaat.

Salam hangat

Alimah Fauzan

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About alimah 59 Articles
Seorang ibu, pembelajar, bekerja dan berkarya di Infest Yogyakarta. Inisiator Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bersama Infest Yogyakarta dan media pembelajaran perempuanberkisah.com. Sangat tertarik pada isu perempuan, gender studies, sosiologi komunikasi, pemberdayaan desa, parenting, filsafat, psikologi, tasawuf, dan isu sosial-politik. Tahun 2007, pernah berbagi kisah inspiratif di blog My Last Paragraph. Sejak 2015 sampai saat ini, masih berbagi pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal di perempuanberkisah.com. Tahun ini baru memulai berbagi pengalaman parenting dan cerita inspiratif lainnya di alimahfauzan.id. Saya bisa dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*