Kapan Berhenti Membuli Teman?

Membuli atau mengolok-olok teman, terkadang memang terasa lucu. Namun, suatu waktu olok-olokan menjadi kelewatan dan bisa menimbulkan masalah.

Suatu hari, seorang anak lelaki tidak menyangka bahwa dia keliru memasukkan jaket kakak perempuannya. Jaket itu berwarna pink. Dia sebenarnya ragu untuk memakainya, namun saat itu adalah musim dingin. Akhirnya dia pun terpaksa memakainya. Tiba-tiba teman-temannya datang dan menertawakannya yang mengenakan jaket berwarna pink. Temannya tak henti mengolok-oloknya sebagai anak lelaku yang memakai jaket warna pink.

Buku terbitan Cherrytree Press ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Kanisius.

Kisah itu dialami oleh murid-murid ibu Casey di sekolahnya. Kisah mereka diceritakan dalam buku berjudul “Mengapa Mengolok-olok?”. Buku ini merupakan salah satu seri buku yang pernah saya ceritakan juga di blog ini, yang berjudul “Mengapa Tidak Mau Berbagi?”.

Bunda, suatu ketika hal ini bisa saja dialami anak-anak kita, diolok-olok oleh teman-temanya. Terkadang olok-olokan memang terasa lucu, tapi suatu waktu olok-olokan menjadi kelewatan dan bisa menimbulkan masalah.

Jadi apa yang harus dilakukan ketika olok-olok sudah tak lagi lucu? Apakah olok-olok itu kemudian perlu dihentikan? Lalu kapan kita harus menghentikan olok-olok? Buat adek-adek yang membaca ini, berikut ini beberapa hal yang bisa kamu pertimbangkan.

  • Perhatikan apakah temanmu yang kamu olok-olok tampak sedih atau kesal.
  • Jika ya, hentikan olok-olokmu
  • Beri kesempatan padanya untuk mengungkapkan keinginannya
  • Pilihlah satu permainan yang dapat membuat semua anak gembira

Anak-anak dalam buku ini mendapat pelajaran akibat tindakan mengolok-olok dan diolok-olok. Cerita-cerita mereka mungkin membuatmu untuk lebih memahami tentang perilaku mengolok-olok teman.

Ketika Muncul Masalah

Kita semua suka bercanda. Mula-mula olok-olokan terasa lucu dan menyenangkan, tetapi kadang berubah menjadi menyakitkan. Terkadang kita kelewatan mengolok-olok teman hingga teman yang kita olok-olok menjadi kesal. Jika teman yang diolok-olok tampak kesal atau marah berarti muncul masalah.

Jika kamu tahu bahwa teman yang kamu olok-olok tampak sedih atau kesal, berhentilah mengolok-olok. Bicarakanlah hal itu bersama-sama. Carilah jalan keluar untuk mengatasinya. Jika kamu yang diolok-olok, katakan pada teman-temanmu bahwa kamu tidak menyukainya dan mintalah mereka untuk berhenti mengolok-olokmu. Jika mereka tidak memedulikannya, mulailah bantuan orang desa.

Bagaimana Penyelesaian Masalahnya?

              seri buku problem solvers

Anak-anak di kelas Bu Casey menghadapi masalah ketika mereka mengolok-olok salah seorang teman. Lalu, mereka berusaha menyelesaikan masalah itu bersama-sama. Jika suatu saat kamu diolok-olok, lakukan langkah-langka berikut ini.

  • Abaikan olok-olok itu, nanti akan berhenti sendiri
  • Menjauhlah, bermainlah dengan teman-teman yang lain
  • Jelaskan permasalahannya
  • Katakan kepada teman-temanmu agar mereka berhenti mengolok-olokmu
  • Mintalah bantuan pada orang dewasa

Langkah-langka ini mungkin dapat membantumu ketika menghadapi masalah seperti ini. Terkadang sebuah masalah terasa berat jika harus diselesaikan sendirian. Terkadang sebuah masalah terasa berat jika harus diselesaikan sendirian. Oleh karena itu, jika perlu, mintalah bantuan kepada orang dewasa.

Buku ini juga merupakan salah satu buku yang saya temukan di Perpustakaan Grhatama Pustaka, perpustakaan yang rutin saya kunjungi. Karena hanya di perpustakaan inilah tidak hanya mendapatkan buku-buku baru, namun juga buku-buku lama yang bahkan mungkin tidak lagi cetak.

 

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About alimah 59 Articles
Seorang ibu, pembelajar, bekerja dan berkarya di Infest Yogyakarta. Inisiator Komunitas Perempuan Pembaharu Desa bersama Infest Yogyakarta dan media pembelajaran perempuanberkisah.com. Sangat tertarik pada isu perempuan, gender studies, sosiologi komunikasi, pemberdayaan desa, parenting, filsafat, psikologi, tasawuf, dan isu sosial-politik. Tahun 2007, pernah berbagi kisah inspiratif di blog My Last Paragraph. Sejak 2015 sampai saat ini, masih berbagi pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal di perempuanberkisah.com. Tahun ini baru memulai berbagi pengalaman parenting dan cerita inspiratif lainnya di alimahfauzan.id. Saya bisa dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com.

1 Trackback / Pingback

  1. Mengapa Bertengkar? – Cerita Bunda Pembelajar

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*