Elias Howe: Dari Tombak Berlubang, Menjelma Jarum Mesin Jahit

Imajinasi jarum berasal dari tombak berlubang yang digunakan orang-orang suku primitif dalam mimpi Elias Howe.

Ya, Elias Howe adalah seorang yang pernah bermimpi dan menggunakan imajinasinya dengan baik. Dalam mimpinya, ia ditahan oleh ketua suku primitif yang memberi waktu 48 jam untuk menciptakan mesin jahit. Ia melihat jeruji-jeruji kecil dan lubang-lubang pada bahan yang dijahit. Ketika ia sadar dari tidurnya, ia menemukan ide memasukkan benar pada ujung jarum, sehingga dengan mudah benang dapat menyatukan 2 lembar kain. Imajinasi jarum berasal dari tombak terlubang yang digunakan orang-orang suku primitif dalam mimpinya.

Elias Howe dikenal dunia sebagai penemu dari mesin jahit pertama. Mesin jahit merupakan suatu alat mekanis yang diciptakan untuk mempermudah manusia dalam menjahit. Dengan menggunakan mesin jahit, menjahit menjadi lebih cepat daripada menjahit menggunakan tangan. Sejak penemuan mesin jahit oleh Elias Howe, mesin jahit terus mengalami perkembangan hingga sampai sekarang.

Elias Howe (Penemu Mesin Jahit)

Elias Howe membutuhkan waktu selama lima tahun bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya tersebut. Namun apa yang terjadi? Mesin jahit pertamanya gagal sebab tidak sesuai dengan yang ia harapkan. karena alatnya meniukan gerakan manusia ketika menjahit yaitu lubang dari benang berada dipangkal jarum buka di ujung jarum seperti saat ini. Hingga kemudian musibah menimpanya ketika bengkelnya hangus terbakar dan menghanguskan mesin jahit pertama ciptaan Elias Howe. Namun dari peristiwa ini ia tidak putus asa.

Kemudian di tahun 1844, Mesin jahit buatannya yang kedua berhasil membuat lubang jarum tersebut berada diujung jarum seperti yang kita lihat sekarang ini. Mesin jahi buatannya ini mampu menjahit 250 jengkal permenit. Ujicoba dilakukan dengan bertanding menjahit melawan lima orang gadis yang menjahit dengan menggunakan tangan.

Fokus Hobi Si Kecil

Membaca cerita singkat tentang Elias Howe dalam buku Femi Olivia tentang Biodrawing, mengingatkan saya pada imajinasi-imajinasi kecil anak kami, Bentara. Imajinasi si kecil kadang sangat mengejutkan. Termasuk ketika tiba-tiba dia menyusun beberapa jarum pentul menjadi semacam rak kecil. Dari sosok Elias Howi, saya semakin mantap mengapresiasi ide-ide si kecil yang bermula dari sebuah imajinasi tak terduga.

Saya sendiri sampai sekarang masih terus berusaha melihat perkembangan si kecil yang hobi menggambar. Bentara, anak kami yang bulan depan genap berusia 5 tahun, memang paling suka menggambar mobil. Namun sesekali dia juga menggambar rumah, pohon, binatang dan beberapa benda lain selain mobil-mobilannya.
Suatu pagi di tahun 2017, saya sempat takjub dengan tingkahnya. Pagi hari, dia tiba-tiba ingin mewujudkan sebuah rancangan alat transportasi yang pernah dia lihat dan gambar. Pagi ini, dia terus bercerita tentang rencananya membuat kapal gandeng. Keinginannya itu pun diungkapkan kepada ayahnya.

Saat menceritakan rancangannya tentang sebuah kapal gandeng, dia menjelaskannya dengan detail detail dan cepat, tapi kami paham. Bahan dasar kapal gandeng yang dia inginkan terbuat dari gabus. Hal ini karena saat itu yang dia lihat di rumah hanyalah gabus bekas. Karena dia menjelaskan panjang lebar dan cepat, saya memintanya menggambarkan apa yang dia maksud. Tara pun mulai menggambarkan sebuah kapal gandeng yang muncul di pikirannya di whiteboard. Dia menggambar begitu cepat dengan sedikit ombak. Memang tidak begitu detail seperti apa yang dia jelaskan. Rupanya, dia cepat-cepat menggambar seadanya karena dia ingin segera eksekusi desainnya.

Tara dan hasil karyanya

Saat ini, ayahnya dianggap yang paling mampu mewujudkan gambaran kapal gandeng yang dia desain. Jadilah, ayahnya menyiapkan semua alat yang dibutuhkan. Posisi ayahnya hanya sebagai teknisi, seperti sebuah robot yang menuruti semua petunjuk dari Tara. Termasuk bagaimana memotongnya, bentuknya seperti apa, ukurannya, serta bagaimana dan dengan apa kapal itu digandeng. Jika ada satu hal yang keliru atau tidak sesuai dengan desainnya, Tara segera mengoreksi ayahnya. Tidak lama kemudian, jadilah kapal gandeng dari gabus itu.

Tara bahagia, karena hasilnya sesuai dengan desainnya. Kapal gandeng segera dia bawa ke atas kolam ikan belakang rumah kami, berbaur dengan kapal-kapal gabus lainnya. Beberapa pekan sebelumnya, Tara juga berkali-kali meminta dibelikan mobil remot. Namun semua hasrat itu redam saat dia dan ayahnya bersama-sama membuat mobil dari kertas dus bekas. Segala alat seperti lem tembak, cuter, penggaris, dll dia hapal. Dia juga puas dengan hasilnya, mobil terbuat dari kertas dus bekas susunya.

Biodrawing: Mengarahkan Otak Kanan dan Kiri Bersamaan

Dalam pengantar belajar biodrawing #1 saya sudah memaparkan tentang biodrawing. Kali ini masih kelanjutannya, bahwa salah satu cara mengasah imajinasi dan visualisasi adalah dengan menggambar. Menggambar adalah suatu cara untuk menggali esensi dan mendorong seseorang untuk berpikir, berproses, memfokuskan diri, dan bahkan bergembira sekaligus meraih hasil. Misalnya, dokter gigi yang pandai membuat gigi pasiennya lebih cantik dan sehat akan lebih difavoritkan. Penata rambut make up yang bisa menjadikan siapa saja jadi “bintang” dan sebagainya. Jadi mau berprofesi apa pun nantinya, seseorang yang pandai berbahasa visual akan lebih mudah ebrkomunikasi dengan orang lain, terutama dalam penyampaian ide dan menerapkan ide-ide tersebut ke dalam bentuk yang lebih nyata.

Menurut Daniel H. Pink pada era Konseptual, masyarakat perlu membekali anaknya dengan kecerdasan high concept, high touch, yakni mengarahkan otak kiri dan otak kanan secara bersama-sama. Di era ini, sebuah benta tidak hanya bertumpu pada fungsi namun juga desain. Jadi segala produk, jasa, pengalaman atau gaya hidup tidak sebatas fungsional saja, melainkan juga secaar ekonomi juga penting dan berharga secara personal. Terutama untuk menciptakan sesuatu yang juga indah, fantastis dan menarik secara emosional.

Kemampuan menggambar berawal dari melihat. Melihat objek adalah melihat detail dari objek lengkap dengan benda-benda di sekitarnya, cahaya yang menerpanya (gelap, terang), dan sebagainya. Otak kanan (otak visual) akan merekam bentuk dan pola dari warna dan intensitas warna: gelap atau terang. Lengkap dengan latar belakang atau arah samping kiri-kanan dari objek yang akan digambar.

Dengan kata lain, otak kanan (yang melakukan tugasnya bersama otak bawah sadar) mampu merekam secara cepat, dan memberi informasi lingkungan, letak (posisi) dan sekaligus melihat secara tepat. Oleh karena itu, dengan melatih pikiran secara visual akan merangsang seseorang untuk berpikir cepat dan mampu “membaca” orang (ekspresi, perasaan, kehidupan).

Sedangkan otak kiri (intelektual) merupakan otak sadar yang akan menggolongkan objek denga memberi nama pada setiap bentuk dan pola, melalui informasi yang akan secara rutin dikirim oleh otak visual dan langsung akan mengaitkan informasi baru dengan informasi yang sudah terekam sebelumnya.

Oke bunda, sementara pengantar tentang biodrawing #2 sampai di sini dulu. Nanti akan saya lanjut lagi di tahap belajar berikutnya.

Salam hangat,

Alimah

*sumber gambar: klik pinterest

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

03 comments on “Elias Howe: Dari Tombak Berlubang, Menjelma Jarum Mesin Jahit

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *