Butuh Semangat dan Ketrampilan Orang Tua

Selain pengalaman dari keluarga inspiratif dari penulis cilik Najma dan Nadia dalam “Cinta Menulis Sejak Usia Dini, Mungkinkah?”, saya juga pernah membaca beberapa kisah inspiratif lainnya termasuk para filsuf. Bagaimana sejak kecil mereka sudah mulai dikenalkan dengan dunia membaca dan menulis. Begitu pun dari sejumlah penulis Indonesia yang berbagi pengetahuan dan pengalaman inspiratifnya.

Minggu lalu saya baru membaca buku yang ditulis oleh Muhammad Fauzil Adhim, yang berujudl “Positive Parenting” terbitan tahun 2015. Sosok Fauzil Adhim sudah cukup akrab bagi saya sejak saya kuliah S1 di Yogyakarta sekitar tahun 2003-2007. Buku-buku beliau memang lebih banyak menulis tema psikologi dan pendidikan. Yang juga populer dari tulisannya adalah tentang pernikahan dan parenting. Salah satu bab yang langsung menarik minat saya untuk membaca adalah bab “Ajarkan Menulis Sejak Playgroup” di halaman 255.

Menurut Fauzil Adhim, anak-anak bisa kita kenalkan membaca dan bahkan menulis sejak berumur satu tahun, tidak berarti pembelajaran baca-tulis bisa secara formal diajarkan di jenjang TK. Apalagi playgroup (kelompok bermain) dan day-care (taman pengasuhan anak yang di negeri ini berubah menjadi taman penitipan anak!). Pembelajaran membaca secara formal tetap dimulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar. Tetapi jika anak-anak telah memiliki kecakapan membaca dan menulis yang memadai saat mereka di TK, sekolah menyediakan pendidikan yang sesuai. Artinya, di satu sekolah tersedia program pendidikan yang sesuai dengan tingkat kecakapan belajar anak.

Ini berarti bahwa sebelum anak mengikuti pembelajaran di kelas satu SD, terlebih dulu ada proses penilaian kecakapan dari sekolah. Selanjutnya, sekolah menjalankan program pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan kecakapan anak. Mereka yang sudah mampu membaca, tetapi terlihat tidak memiliki motivasi dikarenakan proses pembelajaran di fase sebelumnya yang salah, masuk kelompok anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis untuk mengikuti proses re-edukasi. Pendidikan ulang, agar mereka bisa menikmati, menyukai dan bersemangat dengan kecakapan dasar belajar ini; membaca dan menulis.

Jika anak-anak tidak menikmati kegiatan membaca dan menulis, sulit kita berharap mereka akan menjadi orang-orang yang berilmu yang antusiasi mengembangkan diri dan meningkatkan ilmunya. Itu sebabnya, negara-negara maju atau negara yang sangat ingin maju sangat peduli dengan indeks membaca (reading index) dan tingkat kemampuan membaca yang ditunjukkan melalui reading score. Sementara Indonesia merupakan negara dengan skor terendah se-Asia Timur dan jauh di bawah Vietnam. Apalagi dibandingkan Singapura Hongkong dan Jepang.

Jika anak-anak tidak menikmati kegiatan membaca dan menulis, sulit kita berharap mereka akan menjadi orang-orang yang berilmu yang antusias mengembangkan diri dan meningkatkan ilmunya. Itu sebabnya, negara-negara maju atau negara yang sangat ingin maju sangat peduli dengan indeks membaca (reading inde) dan tingkat kemampuan membaca yang ditnjukkan melalui reading score.

Cara Mengajarkan Menulis Anak Usia Dini

Lalu, bagaimana cara mengajarkan menulis pada anak umur satu tahun?

Masih menurut buku “Positive Parenting” yang ditulis Fauzil Adhim. Berikut adalah beberapa cara mengejarkan menulis pada anak usia satu tahun.

Pertama, sebelum mengenalkan membaca dan menulis secara lebih sistematis, mereka harus akrab dengan aktivitas membaca maupun menulis. Akrab berarti mereka memiliki pengalaman positif dari lingkungan terdekatnya, yakni orangtua, dengan dua kegiatan tersebut. Mereka juga memiliki pengalaman menyenangkan saat mendengar dua istilah penting ini: membaca dan menulis.

Kedua, proses pembelajaran—dalam hal pemberian pengalaman pra-membaca—mengikuti empat prinsip pokok pembelajaran usia dini, yakni spontan, alamiah, antusias, dan menyenangkan.

Kerap kali yang membuat anak sangat bersemangat belajar adalah antusiasme orangtua saat memberikan pengalaman belajar. Antusiasme yang tinggi saat mengajak anak belajar, jauh lebih penting dari ketrampilan mengajari anak membaca dan menulis. Sebab, yang pertama membangkitkan semangat sehingga belajar jadi lebih mudah, sementara yang kedua—yakni ketrampilan mengajar—hanya memunculkan kemampuan. Sementara kemampuan tanpa kemauan yang kuat, hampir-hampir tidak ada nilainya.

Itu sebabnya, orangtua dan juga guru TK maupun SD kelas bawah (kelas 1 sampai 2) harus memusatkan perhatian kepada semangat dan budaya belajar anak daripada kemampuan dan prestasi belaar. Kecuali jika yang kita harapkan hanya tepuk tangan dan deack kagum.

***

Nah bunda, sebenarnya saya juga masih belajar bagaimana menumbuhkan rasa cinta menulis pada si kecil. Setidaknya dengan berbagi cerita ini, saya sekaligus belajar dari mereka yang sudah berpengalaman.

Cerita saya tentang menulis di usia dini cukup sampai di sini. Selanjutnya, mari kita mempraktikkan pembelajaran dari mereka yang sudah berpengalaman. Tentunya, disesuaikan dengan kondisi kita masing-masing dan si kecil.

Salam hangat dari saya,

Alimah Fauzan

Sumber foto: pinterest

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *