Waspadai Gejala “On and Off” si Kecil

Salah satu gejala “On and Off” menjadi sumber pokok munculnya perilaku bermasalah bagi anak-anak di rumah atau pun di sekolah.

Bunda, apakah kita pernah menyadari perilaku si kecil yang sering jauh berbeda di tempat-tempat tertentu. Atau, ketika bertemu dengan orang-orang tertentu. Sikap si kecil yang berubah secara drastis kadang memang sering terjadi. Namun tidak semua sikap yang berubah itu negatif atau perlu diwaspadai. Sikap, perilaku, serta reaksi si kecil adalah sesuatu yang berbeda. Hal ini yang mungkin kita perlu jeli.

Sebenarnya, saat saya menuliskan ini juga sambil saya mempelajari sikap anak saya sendiri. Misalnya reaksi, reaksi si kecil akan berbeda dengan reaksi anak lainnya saat pertama kali bertemu air di kolam renang atau laut. Awalnya reaksinya menangis histeris karena takut, padahal anak-anak lainnya santai dan menikmati. Ternyata, reaksinya hanya sementara, setelah beberapa saat kemudian dia mulai beradaptasi dan akhirnya mulai turun ke kolam, serta mulai asyik menikmati airnya. Nah, yang seperti ini, saya sebut sebagai reaksi. Reaksinya bisa berubah secara cepat atau drastis. Perubahan ini wajar, karena dia baru melihat kolam renang atau laut, jadi dia butuh waktu sesaat untuk beradaptasi dengan tempat baru itu. Itu adalah pengalaman pertamanya.

Namun, apa yang saya maksud dengan perubahan “on and off” ini berbeda dengan perubahan reaksi yang sudah saya contohkan. Sejujurnya, saya juga baru menemukan istilah itu setelah saya membaca bukunya Ayah Edy. Dalam cerita saya kali ini, mari kita sama-sama mengingat lagi atau mengidentifikasi sikap si kecil, apakah pernah ada di posisi “on and off” atau bahkan sekarang si kecil masih ada di zona itu? Jika masih, mari bunda, kita sama-sama belajar memahami dan melakukan sesuatu untuk membantunya melepaskannya dari zona itu.

Apa dan Mengapa si Kecil “On and Off”?

Dalam salah satu cerita Ayah Edy (hlm: 35-37) tentang anak “On and Off”, berikut adalah pengertian yang saya kutip dari Ayah Edy. Anak On and Off adalah anak yang saat di rumah cenderung aktif, tetapi jika di sekolah berubah menjadi pasif. Atau sebaiknya, jika di rumah dia menjadi anak yang duduk manis dan pendiam, tetapi jika di sekolah dia menjadi anak yang aktif dan dinamis, itulah salah satu contoh gejala on and off.

Contoh lain, jika salah satu orangtua sedang pergi, si anak menjadi aktif dan kreatif. Namun, jika tiba-tiba salah satu dari orangtuanya pulang ke rumah, mereka segera berubah menjadi pasif dan tidak kreatif lagi. Ini juga termasuk gejala on and off.

Jadi, gejala on and off terjadi di satu lingkungan atau kondisi, anak kita aktif, tetapi di lingkungan atau kondisi lainnya tiba-tiba dia berubah menjadi pasif atau acuh tak acuh. Sebagian orangtua secara awam sering menyebut anaknya “jago kandang”.

Sesungguhnya perilaku anak yang sehat adalah on and off, artinya dimana pun berada selalu dalam kondisi sama, mirip handphone yang kita miliki. Jika handphone yang kita miliki tiba-tiba mati tanpa sebab, padahal baterainya masih penuh, biasanya ada sesuatu yang tidak beres di dalamya. Begitu pula dengan anak kita. Jika tiba-tiba saja perilakunya berubah tidak seperti biasanya, pasti ada yang tidak beres dengan orang-orang di sekitarnya dalam memperlakukan dirinya sehingga dia meresponnya dengan meng-off-kan dirinya sendiri.

Hal ini banyak saya temui pada keluarga-keluarga yang orang tuanya memiliki perilaku berbeda secara ekstrem. Misalnya, ayahnya keras, tetapi ibunya lembut. Ibunya perfeksionis sementara ayahnya cenderung fleksibel. Bisa juga keluarganya oke, tetapi guru-guru di sekelilingnya sering memarahi, menghukum atau mengucapkan kata-kata yang sering merendahkan harga diri si anak.

Perbaiki Pola Asuh Kita

Perilaku off si anak ini sesungguhnya sangat berpengaruh terhadap perkembangan dirinya, khususnya yang berhubungan dengan aspek kecerdasan. Dan perilaku. Anak yang sering mengalami gejala off, akan terganggu proses perkembangan potensi berpikir kreatif dan berpikir logisnya, jika hal ini tidak segera diatasi, kelak anak yang dibesarkan dalam kondisi semacam ini akan menjadi generasi yang pasif, masa bodoh, dan tidak kritis terhadap permasalahannya.

Itu disebabkan oleh software kecerdasan yang seharusnya berkembang saat dia sedang dala kondisi on telah menjadi tumpul karena dia sering berada dalam kondisi off. Perilaku anak yang sering cenderung off ini kelak akan menyebabkan dia menjadi orang yang minder, tidak punya percaya diri, temperamental, dan perilaku-perilaku buruk lainnya.

Gejala on and off inilah yang dideteksi menjadi sumber pokok munculnya perilaku bermasalah bagi anak-anak di rumah ataupun di sekolah.

***

Jadi bunda, belajar dari gejala ini, mari segera kita koreksi diri kita dan suami apakah ada sikap kita yang membuat si kecil meng-off-kan dirinya? Jika ada, mari kita segera perbaiki sikap dalam mendidik dan mengajar anak-anak kita. Perbaiki juga pola asuh di rumah agar anak kita selalu dalam posisi on and on. Agar kelak mereka menjadi generasi kritis, kreatif, dan peduli pada nasib bangsanya.

Untuk sementara, belajar kita tentang gejala “on and off” sampai di sini dulu ya bunda, terimakasih saya ucapkan kepada Ayah Edy yang selalu menginspirasi para orang tua untuk terus belajar memahami anak dengan pengalaman dan pengetahuannya.

Salam,

Alimah Fauzan

Sumber gambar: pinterest

Sumber bacaan: buku Ayah Edy

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *