Ada Dinosaurus di Gunung Merapi?

“Om, kalau di Gunung Merapi ada dinosaurus? Dinosaurus kan makannya daun di pohon, di Gunung Merapi kan banyak pohonnya, mungkin ada dinosaurus di Gunung Merapi?”
(Bentara Falasifa bertanya kepada Pemandu Museum Gunung Merapi)

Tara bersama bunda, bersiap lomba drumband (1/5/18)

Hari libur May Day pada Selasa (1/5/2018) kemarin merupakan hari yang sibuk bagi kami. Hari itu, saya sendiri sebelum adzan subuh sudah bergegas mempersiapkan kebutuhan Tara untuk lomba drumband. Bukan kebutuhan alat, namun mempersiapkan energinya tetap fit. Jadilah masak pagi buta dan entah bagaimana caranya agar dia bangun lebih pagi dari biasanya. Bangun pagi memang sudah biasa baginya, namun bangun pagi, mandi pagi-pagi dan sarapan lebih pagi dari sebelumnya bukanlah hal biasa. Hanya terjadi di hari-hari tertentu, khususnya saat kami akan melakukan perjalanan.

Nah, pagi itu pukul 06.30 pagi memang Tara harus sudah berkumpul dengan teman-temannya di sekolahnya, di Lembaga Pendidikan Arif Rahman Hakim (ARH), Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Dari rumah, dia harus sudah siap memakai seragam drumband-nya. Iya, hari itu sekolah Tara mengikuti lomba drumband. Tara sendiri memiliki peran penting sebagai pembawa bendera. Saya tidak begitu paham istilah khusus untuk pembawa bendera. Kata Tara, karena dia masih RA1 (Raudhatul Athfal 1 atau TK nol kecil), maka dia dan teman-temannya berperan sebagai pembawa bendera. Hampir setiap hari dia turut berlatih.

Tara bersama teman-teman kelas di ARH

Namun, di usianya yang baru genap lima tahun, memang sulit diprediksi. Satu saat dia begitu semangat, di saat yang lain, tepatnya saat hari-H, bisa saja dia ngambek. Hal ini sudah sering terjadi. Saya pribadi, bukan tipe orang tua yang antusias menawarkan anak untuk mengikuti lomba ini itu. Namun karena ini bagian dari kegiatan sekolah, saya mencoba memberi kesempatan dan mengapresiasinya. Meskipun selama ada kegiatan drumband, saya mengamati Tara tidak begitu menyukainya. Hal itu terbukti ketika detik-detik harus beraksi, dia memilih mundur dari barisan. Selain Tara, ada lagi temannya yang juga memilih mundur sebagai penonton.

Yah, begitulah, mau bagaimana lagi? Setidaknya dia selama ini telah mengikuti proses latihan bersama tim drumband yang lain. Saya tetap menghormati keputusannya. Namun, hal ini berbeda ketika kegiatan berlanjut dengan melakukan “kunjungan ke Museum Gunung Merapi”. Rona antusias sangat terlihat jelas di wajahnya.

Menjadi Pendengar yang Baik tentang Gunung Merapi

Setelah mengikuti lomba drumband, kegiatan Tara bersama teman-teman di sekolahnya adalah berkunjung ke Museum Gunung Merapi (MGM). Tara dan saya memilih naik bus yang sudah disediakan sekolah. Sementara, ayahnya mengendarai mobil kami di belakang bus. Alasan kami memilih bersama teman-temannya di bus, tidak lain agar dia menimati proses liburan ini bersama teman-temannya. Ayah Tara mengistilahkannya agar Tara tetap inklusif, tetap membumi dan berbaur teman-teman lainnya.

Sepanjang jalan menuju MGM, Tara terus berceloteh membicarakan pohon-pohon yang kami lewati. Dia pun membayangkan bahwa kalau dinosaurus ke Gunung Merapi, sungguh kenyang dia karena begitu banyak pohon yang lebat dengan daun hijaunya. Selain tema dinosaurus, kami juga membahas setiap mobil yang kami temui di jalan menanjak nan sempit.

TAra dan teman-teman serius mendengar dan mengamati gambar-gambar sejarah meletusnya Gunung Merapi

Di kaki Gunung Merapi, berdiri sebuah museum sebagai perekam jejak gunung api ini. Kenangan dari tiap letusan tersimpan rapi, bahkan suara gemuruhnya pun dapat didengar berkali-kali. Di museum ini, Merapi dikagumi sebagai pemberi pelajaran berarti. Semua jejak dan petanda letusan gunung merapi terdokumentasi dan terekam dengan baik oleh MGM. Apalagi, di sana kami juga berkesempatan menonton sejarah Gunung Merapi serta rangkaian peristiwa di tahun-tahun saat Merapi meletus.

Nah, dalam setiap keterangan yang dipaparkan oleh sang Pemandu MGM, Tara sangat serius dan antusias memperhatikannya. Saya paham, dia ingin bertanya atau menyela sang Pemandu. Namun, beberapa kali ia urungkan niatnya. Sampai akhirnya usai dan bersiap masuk menuju ruang bioskop, Tara mulai mulai memisahkan diri dari teman-temannya, lalu diam-diam ia memberanikan diri bertanya pada sang Pemandu MGM. Kami saat itu hanya mengamatinya dari jauh, saat ia sedang asyik mengajak ngobrol sang Pemandu.

Bersama om Pemandu yang pintar dan baik hati

Karena penasaran, saya pun akhirnya pelahan mendekat dan mendengar percakapan mereka. Salah satu yang ia bicarakan lagi-lagi tentang Dinosaurus. Usai mengobrol dengan sang pemandu, Tara pun dengan bangga berfoto bersama sang Pemandu. Saya melihat kebanggaan dan kebahagiaan itu muncul dari raut wajahnya, raut yang tak saya temukan saat dia mengikuti lomba drumband. Saya pun lega dan bahagia, tak lain karena melihatnya bahagia.

 

 

Sekilas tentang Museum Gunung Merapi (MGM)

Sebelum saya cerita singkat tentang MGM, perlu diketahui bahwa sebelum masuk ke dalam MGM, kita harus membeli tiket masuk MGM dulu ya? Kemarin kami orang tua membeli tiket, namun untuk anak-anak sudah satu paket rombongan bersama sekolahnya. Nah, tahun 2018 ini, tiket masuknya adalah Rp 5.000. Tiket Masuk ke Ruang Audio Visual untuk menonton film tentang Gunung Merapi Rp 5.000. Sementara jam buka MGM adalah pukul 08.00 – 15.30 WIB untuk hari Kamis. Sementara jadwal buka hari Jumat pada pukul 08.00 – 14.30 WIB. Nah, kalau hari Sabtu – Minggu hanya pukul 08.00 – 15.30 WIB.

Nah, ini dia gambar MGM dari kamera bunda

Nah, untuk informasi valid tentang MGM, saya merujuk Wikipedia. Meskipun saya pernah secara langsung ke sana, namun untuk pengetahuan sejarah MGM lebih baik saya merujuk Wikipedia. MGM merupakan museum bersejarah yang terdapat di Yogyakarta tepatnya Jln. Boyong, Dusun Banteng, Desa Harjobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sekitar lima kilometer dari kawasan objek wisata Kaliurang. Museum Gunung Merapi telah diresmikan pada tanggal 1 Oktober 2009 oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro.

Dengan luas bangunan sekitar 4,470 yang berdiri di atas tanah seluas 3,5 hektare, museum yang ke depan juga akan dilengkapi dengan taman, area parkir, dan plasa ini ingin dikenal masyarakat sebagai Museum Gunungapi Merapi dengan semboyan Merapi Jendela Bumi.

Museum Gunungapi ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan informasi aspek kegunungapian khususnya dan kebencanaan geologi lainnya yang bersifat rekreatif-edukatif untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-budaya dan lain-lain yang berkaitan dengan gunungapi dan sumber kebencanaan geologi lainnya.

Museum Gunungapi ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif sebagai sarana yang sangat penting dan potensial sebagai pusat layanan informasi kegunungapian dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat, serta sebagai media dalam meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tentang manfaat dan ancaman bahaya letusan gunungapi serta bencana geologi lainnya.

Nah, itu sekilas cerita tentang kegiatan kami dari pagi sampai siang. Lalu sorenya kemana? Sore harinya sampai malam, kami berkunjung ke rumah rekan kerja ayah Tara. Kebetulan isterinya baru punya anak kecil, kami pun bergegas silatrahim ke rumahnya setelah Tara tidur siang. Silaturahim kami berlanjut sampai malam, itulah kenapa saya tulis di awal cerita ini bahwa kegiatan kami di hari May Day begitu padatnya.

Sementara cerita saya sampai di sini dulu, para bunda yang ingin mengetahui tentang MGM, langsung saja berkunjung ya, saya suka angin dingin dan udara sejuknya. Jadi meskipun kami sudah naik turun tangga dan keliling ruangan museum, tak terasa karena ketika keluar kembali segar dengan udara pegunungan. 

Salam,

Bunda Pembelajar

 

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *