May 19, 2018

Tradisi Menghibur Warga & Membangunkan Sahur

Konon, dahulu tradisi obrog-obrog untuk tujuan relijius. Namun seiring perkembangan jaman, obrog-obrog terkesan sebagai hiburan semata. Sejumlah ironi pun seakan menjadi hal biasa, mulai dari pemainnya yang tak lagi malu makan dan minum secara terbuka, hingga anak kecil yang dimanfaatkan untuk meminta uang dari rumah ke rumah.

Tahun ini, saya dan keluarga masih berlebaran di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Artinya, saya tidak lebaran di tanah kelahiran di Kabupaten Cirebon. Keluarga kecil kami memang telah memutuskan untuk pindah ke DIY sejak tahun 2014. Bagi saya dan suami, bukan hanya kuliah di DIY, namun juga bekerja dan menetap di sana.

Menjalankan puasa ramadhan di kampung kelahiran dengan tempat tinggal saat ini tentu berbeda. Yang paling terasa adalah suasana saat menanti buka puasa atau adzan magrib, serta saat-saat menjelang sahur. Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri. Ada yang mengisinya dengan mendengarkan ceramah di masjid atau musholah terdekat, seperti di tempat tinggal kami sekarang di Yogyakarta. Ada pula dengan menonton kreasi anak-anak muda yang menyanyi diiringi musik tradisional. Anak-anak muda tersebut berkeliling sekitar jalan kampung, lalu meminta uang atau beras atau sesuatu yang bisa dimakan ke rumah-rumah. Tradisi ini saya kenal sejak saya kecil hingga saat ini masih terpelihara. Tradisi ini yang di desa kelahiranku disebut “obrog-obrog”.

Obrog-obrog merupakan salah satu tradisi menghibur orang yang tengah menanti berbuka puasa dan membangunkan sahur. Kita bisa menemukan tradisi ini di daerah sekitar Jawa Barat, salah satunya di Kabupaten Cirebon. Di desa-desa sekitar k