Tradisi Menghibur Warga & Membangunkan Sahur

Konon, dahulu tradisi obrog-obrog untuk tujuan relijius. Namun seiring perkembangan jaman, obrog-obrog terkesan sebagai hiburan semata. Sejumlah ironi pun seakan menjadi hal biasa, mulai dari pemainnya yang tak lagi malu makan dan minum secara terbuka, hingga anak kecil yang dimanfaatkan untuk meminta uang dari rumah ke rumah.

Tahun ini, saya dan keluarga masih berlebaran di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Artinya, saya tidak lebaran di tanah kelahiran di Kabupaten Cirebon. Keluarga kecil kami memang telah memutuskan untuk pindah ke DIY sejak tahun 2014. Bagi saya dan suami, bukan hanya kuliah di DIY, namun juga bekerja dan menetap di sana.

Menjalankan puasa ramadhan di kampung kelahiran dengan tempat tinggal saat ini tentu berbeda. Yang paling terasa adalah suasana saat menanti buka puasa atau adzan magrib, serta saat-saat menjelang sahur. Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri. Ada yang mengisinya dengan mendengarkan ceramah di masjid atau musholah terdekat, seperti di tempat tinggal kami sekarang di Yogyakarta. Ada pula dengan menonton kreasi anak-anak muda yang menyanyi diiringi musik tradisional. Anak-anak muda tersebut berkeliling sekitar jalan kampung, lalu meminta uang atau beras atau sesuatu yang bisa dimakan ke rumah-rumah. Tradisi ini saya kenal sejak saya kecil hingga saat ini masih terpelihara. Tradisi ini yang di desa kelahiranku disebut “obrog-obrog”.

Obrog-obrog merupakan salah satu tradisi menghibur orang yang tengah menanti berbuka puasa dan membangunkan sahur. Kita bisa menemukan tradisi ini di daerah sekitar Jawa Barat, salah satunya di Kabupaten Cirebon. Di desa-desa sekitar kabupaten Cirebon masih terpelihara. Dalam sehari, bisa saja ada lebih dari satu grup obrog-obrog. Pernah juga, ada sekitar tiga grup “obrog-obrog” yang lewat di depan rumah. Sore hari menjelang buka puasa, para grup “obrog-obrog” tersebut juga kembali menghibur warga di desa. Biasanya, saat menjelang puasa, grup bisa lebih banyak dan lebih meriah dari pada menjelang sahur.

Tradisi Khas Wong Cerbon

Sama seperti artikel yang pernah saya tulis di tahun 2012, sampai saat ini pun tradisi obrog-obrog masih dipelihara. “Obrog-obrog” memang merupakan tradisi khas wong Cerbon, istilah yang biasa diucapkan orang Cirebon. Lazimnya pada bulan Ramadhan, orang membangunkan sahur dengan cara berteriak atau memukul beduk keliling kampung. Tapi berbeda dengan wilayah pantai utara, Indramayu, Cirebon dan Brebes. Di daerah pantura ini bukan saja terkena dengan beragam kekayaan laut yang melimpah, tetapi juga beragam tradisi unik ada di sana.

Di sekitar Cirebon, saat menjelang sahur akan ramai dengan suara nyanyian yang diiringi musik oleh suatu rombongan yang berkeliling. Bulan Ramadhan kota Indramayu dan Cirebon semarak dengan hingar-bingar musik dari kesenian obrog. Warga di daerah pantai utara (pantura) ini “dibangunkan” dari tidurnya untuk melaksanakan sahur dengan bunyi musik yang khas.

Fenomena obrog, sebagai sebuah seni tradisi sangat menarik untuk ditelisik, khususnya pada perubahan media (alat musik), bentuk, dan pergeseran fungsinya.

Apa itu Obrog?

Nama obrog berasal dari bunyi alat musik yang sering dipakai, semacam kendang. Tidak diketahui dengan pasti kapan kesenian ini tercipta. Obrog merupakan kesenian yang banyak ditemui selama bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh, rombongan musik obrog berkeliling dari desa ke desa guna membangunkan warga untuk segera begegas makan sahur.

Grup Obrog akan menyusuri desa-desa dengan memainkan alat-alat musik dan bernyanyi pagi-pagi buta. Biasanya beraksi mulai pukul 2 atau 3 dini hari. Alat-alat musik yang dimainkan oleh rombongan obrog, dahulu berupa alat-alat musik tradisional. Sekarang rombongan obrog bermain dengan menggunakan alat musik modern. Mulai dari gitar elektrik, bass, organ, tamborin, dilengkapi dengan sound system yang didorong di atas roda.

Ada juga rombongan obrog yang menyediakan panggung mini yang didorong di atas roda. Para biduannya juga banyak yang membawakan lagu-lagu dangdut kontemporer. Mirip sebuah grup organ tunggal. Pada tahun 1985-an, obrog banyak dimainkan oleh grup dangdut kelas pinggiran dengan perangkat musik yang lengkap.

Teknologi karaoke yang marak pada 1990-an turut mewarnai perkembangan obrog. Beberapa tahun belakangan obrog banyak dimainkan dengan organ tunggal. Pada saat bulan puasa tiba, grup obrog menjamur di sekitar wilayah pantura. Satu grup obrog biasanya masih terikat hubungan kerabat. Dahulu para pelakunya melulu kaum laki-laki. Ini disebabkan karena kaum perempuan dianggap tabu untuk keluar malam oleh masyarakat. Namun sekarang rombongan obrog banyak menyertakan perempuan di dalamnya, terutama yang bertindak sebagai seorang biduan.

Perkembangan “Obrog-Obrog”

Menurut saya, obrog-obrog sebagai tradisi belumlah berubah. Artinya, dia masih ada. Yang berubah dari obrog-obrog adalah kelengkapan instrumen musiknya. Saat ini, alat yang digunakan tentunya lebih modern dari sebelumnya. Kendati demikian, beberapa grup obrog masih ada yang mempertahankan penggunaan alat-alat tradisional. Bahkan ada juga yang masih memanfaatkan alat-alat rumah tangga seperti ember, tutup panci, dan lain-lain.

Sebagai tradisi khas bulan Ramadhan, makna kesenian obrog di Cirebon dan Indramayu telah bergeser. Ini adalah salah satu ciri kesenian daerah pantai utara yang dihidupi oleh pendukungnya, yaitu rakyat kebanyakan. Obrog adalah tradisi warga Indramayu dan Cirebon membangunkan orang untuk sahur.

Inti dari kesenian obrog adalah membuat bebunyian keras pada dini hari sambil berjalan berkeliling permukiman. Uniknya, saat Lebaran masyarakat akan memberi uang, beras, atau makanan sebagai tanda terima kasih telah dibangunkan sahur selama bulan puasa.

Menurut Rektor Universitas Wiralodra Ir Tohidin MP, selain fungsi relijius, obrog juga menjadi media komunikasi sosial masyarakat. Di sini, kita melihat hubungan timbal balik antara pemberi dan penerima manfaat. Pengamat kebudayaan Indramayu, Supali Kasim, mengatakan, ada beberapa tradisi membangunkan warga untuk sahur di pantai utara (pantura). Misalnya, kempling, yakni membangunkan warga secara berkeliling menggunakan gamelan lengkap. Karena tidak praktis, budaya ini kalah populer dengan obrog yang alat musiknya bisa dijinjing dengan mudah.

Kata “obrog” berasal dari bebunyian yang dihasilkan alat musik semacam kendang. Sebagai tradisi masyarakat, sulit ditelusuri kapan tradisi ini berawal. Kesenian ini berkembang ketika masyarakat wilayah pantura sadar bahwa kesenian merupakan hiburan massa.

Saat ini yang lazim disebut obrog adalah permainan organ tunggal dengan biduan wanita menyanyikan lagu-lagu dangdut populer. Namun, hal itu berbeda dengan obrog pada masa lalu. Karena merupakan kesenian rakyat, obrog tidak sakral dan bisa berubah sesuai dengan pergeseran selera masyarakat.

Menurut Supali, obrog mengalami perubahan dari waktu ke waktu tergantung tren yang sedang berlaku pada masa itu. Obrog zaman dahulu hanya menggunakan alat musik tradisional. Pelakunya hanya laki-laki karena perempuan dianggap tidak pantas keluar malam. Berbeda dengan sekarang, perempuan seakan wajib ada sebagai penyanyi, sedangkan para lelaki memainkan musik. Hal ini berlaku tidak hanya pada saat membangunkan sahur, tetapi juga pada sore hari saat menjelang buka puasa. Pada tahun 1985-an, obrog banyak dimainkan oleh grup dangdut kelas pinggiran dengan perangkat musik yang lengkap. Teknologi karaoke yang marak pada 1990-an turut mewarnai perkembangan obrog. Beberapa tahun belakangan obrog banyak dimainkan dengan organ tunggal.

Dari Tujuan Relijius ke Hiburan Semata

Selain pergeseran bentuk, Supali melihat pergeseran orientasi. Dahulu, bermain obrog kental dengan tujuan relijius. Atau, kalaupun tidak, bermain obrog didorong unsur kesenangan termain musik. Bahkan, banyak grup organ tunggal sudah memulai permainannya pukul 22.00. Tentu saja masih terlalu dini untuk membangunkan orang sahur. Sebab itu, ada pihak yang sebenarnya kurang setuju dengan bentuk obrog yang sekarang.

Meski demikian, sejauh ini obrog organ tunggal tetap populer. Pihak yang kurang berkenan juga tidak pernah mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan aksi anarkis. Sekarang, tradisi obrog tak bisa lepas dari tujuan ekonomi untuk memperoleh pendapatan. Ini nyata terlihat dari adanya saweran dan pembayaran uang untuk permintaan lagu.

Saya pribadi sampai saat ini, masih merasakan bagaimana perubahan tradisi ini merupakan sebuah ironi di bulan Ramadhan. Karena tujuan ekonomi untuk memperoleh pendapatan tersebut, malah mendorong para ‘artis’ “obrog-obrog” tersebut menghalalkan segala cara. Di antara mereka tidak jarang tanpa malu-malu membatalkan puasanya dengan meminum air pada saat ngobrog. Selain itu, persaingan ketat antara grup “obrog-obrog” satu desa dengan desa yang lain terkadang membuat mereka saling menghasut dan menjatuhkan.

Hal lain yang menurut saya sangat tidak pantas adalah ketika meminta uang di tiap-tiap rumah, mereka memanfaatkan anak kecil yang terkadang ikut-ikutan tidak puasa. Selebihnya, kemunculan grup “obrog-obrog” yang semakin banyak, membuat warga harus mengeluarkan uang lebih banyak ketika mereka datang untuk meminta-minta uang dari rumah ke rumah.

===

Artikel ini merupakan pembaharuan dari tulisan saya sebelumnya tentang obrog-obrog di Kompasiana.

Sumber gambar: obrog-obrog

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *